Menguliti Profesi Pembaca Tarot dari Novel 'Sang Peramal': Penghormatan untuk Novelis yang Telah Berpulang
INDOZONE.ID - Dari semua novel karya mendiang Chandra Bientang (1989 -2025), mungkin novel 'Sang Peramal' menjadi salah satu karya yang menarik perhatian banyak penikmat literasi di Indonesia. Bahkan ke komunitas cenayang lantaran membahas profesi pembaca tarot.
Meski sudah terbit sejak 2021 silam, novelnya masih rajin diulas, khsusunya di halaman Goodreads. Terhitung sudah ada 174 ulasan dengan rating skor rata-rata 4,1/5.
Wajar bila novel ini sempat memenangkan penghargaan Scarlet Pen Awards 2022 untuk dua kategori sekaligus, yaitu Best Mystery dan Best Novel
Novel ini bukan sekadar cerita misteri tentang orang hilang, melainkan sebuah pembacaan tajam tentang identitas, kepercayaan, dan cara manusia menyembunyikan diri di balik peran—termasuk profesi pembaca tarot.
Cerita sebelum penerbitan
Dalam sebuah kesempatan, Chandra mengungkap bahwa Sang Peramal lahir dari proses adaptasi dan perombakan naskah lama kepada Indozone.
Tokoh utama dalam novel ini sejatinya berasal dari cerita sebelumnya yang tidak berhubungan dengan dunia peramalan. Namun, dalam proses kreatifnya, Chandra memutuskan mengubah arah cerita.
“Aku kepikiran, kenapa nggak sekalian menjadikan tokoh ini seorang peramal,” ujarnya.
Sang penulis mengerti pembacaan tarot
Keputusan itu terasa natural, sebab dunia tarot bukanlah wilayah asing baginya. Chandra mengaku pernah mempraktikkan pembacaan tarot dan cukup akrab dengan simbol-simbolnya.
Kedekatan personal inilah yang membuat proses penulisan terasa lebih organik, tanpa riset berlapis atau wawancara panjang.
Baca juga: Film Horor Terbaru "Tarot" Hadir di Bioskop Mei 2024, Catat Tanggalnya!
Figur Peramal yang Tidak Mistis
Tokoh sentral Sang Peramal adalah Imar Mulyani, seorang perempuan tua yang enerjik, berjiwa muda, dan karismatik. Dalam imajinasi Chandra, sosok Imar bahkan sempat terbayang seperti figur Mama Lauren—ikon peramal populer dengan gaya, dandanan, dan aura khas.
Namun, Chandra menegaskan bahwa Imar bukan peramal dalam pengertian mistis. Ia tidak memiliki kemampuan terawang atau visi gaib. Imar hanyalah pembaca tarot—seseorang yang menafsirkan simbol-simbol kartu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman.
“Simbol tarot itu sebenarnya bisa dibaca siapa saja, asal mau belajar,” kata Chandra. Ia sendiri mengaku tak pernah menghafal arti kartu, dan selalu membuka buku panduan setiap kali membaca tarot.
Makna tarot
Bagi Chandra, tarot lebih dekat pada sistem simbol daripada ramalan mutlak.
Menariknya, dalam novel, profesi Imar justru menjadi pintu masuk ke kekuasaan dan akses sosial. Ia dikenal luas, dipercaya kalangan penting, bahkan figur publik.
Di titik inilah Sang Peramal bergerak dari sekadar cerita misteri menuju kritik sosial.
Tarot, Peramal, dan Cara Pandang Masyarakat
Melalui Sang Peramal, Chandra juga menyinggung cara masyarakat Indonesia memandang profesi peramal. Ia menegaskan tidak berniat menghakimi dunia peramalan.
Novel ini, menurutnya, hanya menyoroti satu sosok yang partikular—seseorang yang memanfaatkan profesinya untuk kepentingan tertentu, bahkan merugikan orang lain.
Baca juga: Novel "Kyoukai no Melody" Umumkan Adaptasi Anime. Pemeran Utama Sudah Dikonfirmasi!
Pasca penerbitan novel, Chandra justru menerima respons unik. Ia sempat dihubungi komunitas cenayang dan ditawari menjadi pembicara.
“Padahal saya bukan peramal,” ujarnya sambil tertawa.
Chandra percaya, soal ramalan selalu kembali pada kepercayaan masing-masing. Ia bahkan menyebut nama-nama seperti Baba Vanga dan Nostradamus sebagai contoh bahwa fenomena ini tidak bisa sepenuhnya ditolak maupun diterima mentah-mentah.
Lebih dari sekadar novel misteri, Sang Peramal adalah refleksi tentang manusia yang tak pernah benar-benar tampil apa adanya. Setiap orang, kata Chandra, selalu memakai topeng—entah demi sopan santun, citra sosial, atau perlindungan diri.
Dan mungkin, di situlah kekuatan Sang Peramal: bukan pada ramalannya, melainkan pada keberaniannya membongkar rahasia manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara