INDOZONE.ID - Peluncuran buku Serenada Sentani menjadi momen yang tidak hanya merayakan karya, tetapi menghadirkan perjalanan rasa yang mendalam tentang manusia, alam, dan makna kehidupan.
Bertempat di M Bloc Space pada Sabtu (25/04/2026), acara ini menghadirkan para penulis dan tokoh penting yang terlibat dalam proses kreatif buku tersebut.
Buku Serenada Sentani merupakan perpaduan antara fotografi dan puisi yang menggambarkan keindahan Sentani serta kehidupan masyarakatnya.
Karya ini ditulis oleh Ninda Reninta, Ronald Micahel Manoach, Jimmi Corneles Manoach, dengan dukungan visual dari fotografer Binar Imanto dan Rahid Hanif Aliefuddin.
Baca juga: Magis! Pertunjukan Shinta Obong di TMII Hadirkan Cerita Ikonik tentang Keraguan dan Kesetiaan
Dalam konferensi pers, hadir Ninda Reninta, Ronald Micahel Manoach, serta Kepala Suku Sentani Yanto Khomlay Eluay yang menyandang gelar Hu Ondofolo Igwaigwa Ondikeleuw Haleufoiteuw Hele Wabhouw.
Turut hadir pula Direktur Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekonomi Kreatif, Iman Santoso, serta Deputi Bidang Kreativitas Media, Cecep Rukendi.
Perjalanan Rasa dalam Serenada Sentani
Buku Serenada Sentani bukan hanya menyuguhkan keindahan visual, melainkan mengajak pembaca menyelami perjalanan batin dalam mencari makna hidup.
Keindahan Danau Sentani, kehidupan masyarakat adat, hingga nilai budaya yang masih terjaga menjadi refleksi tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Menariknya, proses penciptaan buku ini lahir dari eksperimen rasa yang tidak biasa. Ninda Reninta mengungkapkan bahwa dirinya bahkan belum pernah mengunjungi Sentani secara langsung.
“Ini kejujuran dari hati yang paling dalam, saya belum pernah ke Sentani. Jadi ini eksperimen perjalanan rasa. Ketika teman-teman pergi ke Sentani, mereka bercerita kepada saya tentang keindahan dan kehidupan di sana. Dari situ, saya mulai menulis,” ujar Ninda.
Ia menambahkan bahwa proses kreatifnya dibangun dari komunikasi intens melalui video call, di mana tim berbagi pengalaman secara langsung.
“Setiap hari mereka cerita, kirim foto, cerita tentang nelayan, anak-anak berenang, bahkan pengalaman makan ulat sagu. Dari situ energinya masuk, dan saya mencoba merangkum apa yang saya rasakan ke dalam tulisan.”
Menurut Ninda, keterbukaan menjadi kunci utama dalam menyatukan rasa antara foto dan puisi.
Foto atau Puisi, Mana yang Lebih Dulu?
Dalam prosesnya, karya visual menjadi pemantik lahirnya puisi. Cerita dan dokumentasi yang dibagikan para fotografer menjadi fondasi bagi Ninda dalam menulis.
“Ketika saya percaya dengan cerita mereka, di situlah saya meyakini keindahan Sentani. Dari situ baru saya mulai menulis,” jelasnya.
Pendekatan ini membuat Serenada Sentani terasa autentik, meskipun tidak semua kreatornya hadir langsung di lokasi yang sama.
Misi Sosial dan Harapan untuk Sentani
Lebih dari sekadar karya seni, buku ini turut membawa misi sosial. Hasil penjualan buku Serenada Sentani akan disalurkan untuk program CSR melalui Yayasan Papua David Care, sebuah yayasan sosial di bidang kesehatan yang berbasis di Sentani.
Ronald Micahel Manoach menjelaskan bahwa buku ini juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat lokal akan nilai yang mereka miliki.
“Kami ingin orang Papua, khususnya Sentani, menyadari bahwa semua yang mereka miliki itu berharga dan harus dijaga.”
Ia juga menekankan pentingnya dampak ekonomi dari karya ini.
Baca juga: Lukisan "Yashoda dan Krishna" Karya Raja Ravi Varma Laku Rp292 Miliar, Rekor Tertinggi Seni India
“Sebagus apapun potensi, kalau tidak dikelola tidak akan menghasilkan apa-apa. Maka buku ini bukan sekadar peluncuran, tapi juga bagian dari upaya membangkitkan kawasan di sana melalui CSR.”
Sebagai langkah awal, pengembangan wisata akan difokuskan di kawasan Cagar Alam Cycloop, yang dinilai memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan.
Serenada Sentani: Harmoni Seni dan Makna
Dengan menggabungkan fotografi dan puisi, Serenada Sentani menghadirkan pengalaman membaca yang tidak biasa, sebuah perjalanan visual sekaligus emosional.
Buku ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan modern, manusia tetap perlu kembali pada rasa, alam, dan makna yang lebih dalam.
Peluncuran ini bukan hanya tentang sebuah buku, tetapi tentang bagaimana karya dapat menjadi jembatan antara seni, budaya, dan harapan bagi masa depan sebuah daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung
