INDOZONE.ID - "BTS 2.0 baru saja dimulai!" seru J-Hope berdiri bersama enam anggota lainnya di atas panggung. Pada 21 Maret lalu, ketujuh personel BTS kembali tampil setelah lama vakum.
Puluhan ribu penggemar hadir dan lebih dari 18 juta orang menonton siaran langsung pertunjukan satu jam itu.
Ini adalah teaser mulus dari tur dunia BTS yang akan datang, dengan kekompakan khas grup yang terlihat jelas.
Namun di balik kemeriahan itu, cerita yang lebih rumit muncul. Sebuah film dokumenter tentang pembuatan album baru menunjukkan para anggota berselisih dengan agensi mereka, Hybe, soal arah dan identitas musik.
Baca juga: BTS Tambah Jadwal Tur "ARIRANG" di Amerika Selatan, Ini Daftar Kotanya
BTS kini ditarik ke berbagai arah: antara penggemar lama dan baru, Korea dan global, antara identitas artistik dan ekspektasi komersial.
Intinya bermuara pada satu pertanyaan: Apakah BTS terlalu jauh menyimpang dari K-Pop dalam upaya merayu dunia?
Di Korea, beberapa penggemar memperdebatkan seberapa "Korea" album baru berjudul Arirang.
Padahal album ini dinamai dari lagu rakyat tercinta yang disampel dalam lagu pembuka bertajuk Body to Body.
Yang membela album ini justru memuji keberanian menggunakan rap. Ini mengingatkan mereka pada BTS era lama.
Baca juga: 5 Hal Seru dari ‘Yumi’s Cells 3’, Drakor Romantis Kim Go Eun Wajib Ditunggu di 2026
Sementara lainnya mempertanyakan penggunaan bahasa Inggris yang sangat dominan dan deretan panjang produser dari AS hingga Australia.
Di luar negeri, penggemar tampaknya tidak terlalu terpecah.
Para kritikus menyambut apa yang mereka anggap sebagai perubahan eksperimental. Ulasan BBC menyebut album ini sebagai "kembali ke bentuk yang sesungguhnya".
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC