INDOZONE.ID - Pernah kepikiran nggak sih, gimana rasanya tinggal di apartemen kecil yang dindingnya super tipis sampai bisa dengar suara tetangga tiap waktu?
Nah, film thriller terbaru Netflix, Wall to Wall, mengangkat keresahan itu, tapi dengan cara yang jauh lebih dark dan menegangkan.
Bukan sekadar soal bisingnya suara sebelah, tapi tentang bahaya yang bisa tersembunyi tepat di balik dinding.
Yuk, kita bahas lebih dalam makna di balik Wall to Wall, yang hadirkan realita miris generasi muda di Korea Selatan!
Makna Film Wall to Wall
Sisi Gelap di Balik Mimpi Punya Apartemen di Korea
Film thriller terbaru ini menunjukkan kenyataan pahit soal obsesi masyarakat Korea Selatan terhadap rumah.
Namun, ceritanya lebih fokus tentang apartemen ukuran 84 meter persegi, yang dianggap simbol sukses seseorang.
Lewat film ini, sutradara Kim Tae Joon mengajak kita buat mikir ulang tentang seberapa penting mengejar mimpi punya rumah ideal sampai harus mengorbankan banyak hal.
Baca juga: Penjelasan Ending Wall to Wall: Film Thriller Korea Terbaru Netflix yang Bikin Merinding!
84 m² Bukan Cuma Angka
Di Korea, 84 m² itu udah kayak standar rumah idaman. Ukuran ini dianggap pas, nyaman, dan jadi simbol pencapaian.
Banyak pekerja kantoran yang kerja keras siang malam demi bisa beli apartemen dengan ukuran tersebut. Katanya, kalau udah punya yang 84 m², berarti hidupmu udah mapan.
Baca juga: Review 'Wall to Wall': Film Thriller Korea Netflix yang Bikin Merinding Sekaligus Mikir!
Dari Impian Jadi Beban
Film ini menceritakan tentang Noh Woo Sung (Kang Ha Neul), pegawai kantoran umur 30-an yang nekat Banget.
Demi beli apartemen impian di Seoul, ia sampai menghabiskan semua tabungan, hutang sana-sini, sampai menjual tanah peninggalan ibunya. Woo Sung ini kayak cerminan anak muda yang berjuang buat hidup normal versi standar masyarakat.
Namun, hidup nggak seindah brosur apartemen. Tiga tahun setelah pindah, Woo Sung justru makin tertekan.
Ia harus kerja serabutan, dikejar utang, bahkan takut menyalakan AC karena tagihan listrik. Lama-lama, bukan cuma capek fisik, ia juga capek mental.
Ditambah lagi, Woo Sung mulai dengar suara-suara aneh di apartemennya. Ternyata, bukan cuma ia saja yang dengar. Semua penghuni juga mengalami hal yang sama dan malah saling tuduh.
Dalang di Balik Kekacauan
Masalahnya nggak berhenti di situ. Ternyata, ada dalang di balik semua kekacauan ini, yaitu Yeong Jin Ho (Seo Hyeon Woo), mantan jurnalis yang dendam sama Eun Hwa (Yeom Hye Ran), ketua asosiasi apartemen.
Dulu, Eun Hwa pernah menutup laporan tentang pembangunan apartemen yang asal-asalan. Jin Ho pun bikin rencana gila, pakai Woo Sung sebagai pion buat balas dendam. Satu gedung pun berubah jadi kekacauan.
Di titik ini, Woo Sung jadi lambang generasi muda yang remuk karena beban hidup. Ia dihantam utang, tekanan sosial, dan investasi yang gagal.
Bahkan, setelah punya apartemen, Woo Sung juga masih nggak bisa hidup normal. Ia harus dengar suara bising menganggu yang membuat hari-harinya semakin suram.
Sementara ending Wall to Wall cukup bikin mikir. Woo Sung akhirnya balik ke apartemen kosongnya setelah pergi ke laut. Namun, suara aneh itu masih ada. Padahal, dalang utama dari kebisingan itu udah nggak ada.
Intinya, film ini meyentil realita hidup di kota: penuh tekanan sosial sampai standar kesuksesan yang bikin stres. Pesan akhirnya adalah anjuran untuk hidup sesuai porsinya, bukan cuma untuk gaya-gayaan atau pengakuan dari orang lain.
Kalau kamu suka film thriller dengan cerita dark yang relate di kehidupan zaman sekarang, Wall to Wall bisa jadi pilihan yang pas. Kamu bisa langsung nonton di Netflix ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kbizoom