Sutradara film 'Keadilan: The Verdict', Yusron Fuadi. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
INDOZONE.ID - Sutradara Yusron Fuadi menyampaikan pandangannya tentang film yang ia garap Keadilan: The Verdict, menekankan dua aspek penting.
Pertama, ia percaya bahwa sebuah film yang bagus harus memiliki relevansi atau keterkaitan dengan realitas.
Kedua, ia menjelaskan bahwa isu yang diangkat dalam film tersebut bukanlah fenomena yang spesifik terjadi di Indonesia, melainkan masalah global di mana orang-orang yang memiliki kekuasaan atau posisi tertentu seringkali menyalahgunakan wewenang mereka.
"Satu, film yang bagus itu kan harus relate ya. Kedua, yang terjadi di film ini tuh nggak spesifik terjadi di Indonesia," kata Yusron Fuadi saat jumpa pers di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu.
Yusron melihat film ini sebagai salah satu upaya untuk ikut serta dalam memperbaiki keadaan di dunia ini, menyoroti betapa pentingnya menyikapi isu penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi secara luas.
"Menurut saya, bahwa yang punya uang atau posisi, bisa menyalahgunakan jabatannya atau posisinya, itu kan terjadi, global fenomenal namanya. Ini salah satu tawaran kita untuk ikut memperbaiki yang terjadi di muka bumi ini," kata sutradara Yusron.
Dia juga menceritakan prosesnya saat menemukan naskah yang menarik, yang awalnya berjudul Judgment. Ia merasa naskah itu tidak hanya menarik tetapi juga sangat relevan dengan isu-isu yang terjadi di dunia saat ini.
Selain itu, ia melihat adanya tantangan baik dari segi naskah maupun produksi, yang membuatnya tertarik untuk menggarapnya.
"Terus aku liat ada satu naskah yang lumayan asik, judulnya waktu itu masih Judgment, dan satu sangat relevan dengan yang terjadi di muka bumi ini, dan aku melihat sekaligus ada tantangan di naskah dan produksi," lanjutnya.
Sebagai filmmaker independen, ia sudah membayangkan adanya kesenangan dan kesulitan dalam mengerjakan proyek ini.
Salah satu kesulitan yang ia antisipasi adalah tantangan dalam komunikasi, menunjukkan bahwa ia menyadari kompleksitas dalam mewujudkan proyek film tersebut.
"Karena saya berasal dari dan masih filmmaker independent ya. Bahwa saya dikasih seperti ini tuh kita sudah membayangkan kesenangan sekaligus kesusahan. Kesusahan tentu saja dalam hal komunikasi," jelas Yusron.
Ini sekaligus menandai perjalanan Yusron dalam menemukan film dengan cerita yang seperti ini di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan