Para cast dan pemeran Ozora (INDOZONE/M Fadli)
INDOZONE.ID - Tragedi yang menimpa David Ozora kembali disorot lewat film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, sebuah karya yang membawa kembali perbincangan mengenai kekerasan, kuasa, dan perjuangan keluarga korban dalam sistem hukum yang dianggap pincang. Film ini dijadwalkan rilis nasional pada 4 Desember 2025.
Dua sutradara, Anggy Umbara dan Bounty Umbara, memimpin produksi ini dengan visi yang mereka bangun sejak fase awal. Meski berangkat dari gagasan Bounty, keduanya merasa kisah yang diangkat memiliki kedalaman yang membuat mereka harus turun tangan bersama.
Anggy mengatakan, “Ketika pertama kali merencanakan proyek ini, kami sudah sangat memiliki ceritanya.”
Diusung oleh kolaborasi banyak rumah produksi, film ini menghadirkan aktor-aktor papan atas, termasuk Chicco Jerikho yang dipercaya memerankan Jonathan, ayah David Ozora. Muzakki Ramdhan tampil sebagai David, sementara peran antagonis diemban Erdin Werdrayana sebagai Dennis, anak pejabat yang melakukan penganiayaan.
Baca juga: Riset Dua Tahun, ‘Riba’ Hadirkan Horor Berbasis Kisah Nyata yang Bikin Merinding
Kisahnya mengikuti Jonathan yang mendapati kenyataan paling pahit putranya masuk koma setelah dianiaya. Peristiwa itu kemudian meledak menjadi viral, menggugah simpati nasional. Bersama dua sahabatnya, Melissa dan Rustam, Jonathan mencoba menerobos dinding ketidakadilan yang terasa makin tebal.
Film ini meramu tragedi tersebut ke dalam bentuk interpretasi, bukan rekonstruksi. Fokus diarahkan pada perjalanan emosional Jonathan dan keluarganya, menggambarkan rasa takut, harapan, serta guncangan psikologis yang dialami saat peluang hidup sang anak sangat kecil.
“Banyak masyarakat yang tidak tahu bagaimana perjalanan psikologis bahkan spiritual seorang ayah, harapan hidupnya hanya 2 persen,” tegas Anggy.
Penghayatan karakter Jonathan menjadi tantangan tersendiri bagi Chicco Jerikho. Aktor berdarah Tanah Abang itu menggambarkan bagaimana ia harus menjaga kondisi emosionalnya sepanjang proses syuting agar tetap selaras dengan beban batin karakter yang ia perankan.
"Rasanya bermain di film ini dan memerankan karakter Jonathan sangat melelahkan, saya harus benar-benar mengatur emosi agar tetap berada di frekuensi Jonathan,” katanya.
Film ini juga menyingkap sisi lain tragedi: solidaritas publik yang tumbuh secara organik. Ketika kasus ini mencuat, masyarakat dari berbagai agama menggelar doa bersama, menunjukkan bahwa ketika keadilan dirasa timpang, suara rakyat bisa menjadi cahaya yang menyinari jalan keluarga korban.
Selain menawarkan kritik sosial, film ini mengajak penonton masuk ke ruang batin seorang ayah yang berjuang menyalakan harapan. Di sisi lain, penonton juga diajak melihat bagaimana kekuasaan bisa melahirkan keringanan hukum yang tidak seharusnya diberikan.
Nuansa pemberontakan dalam film ini diperkuat lewat original soundtrack yang dikurasi dengan sentuhan artistik. Armia And The Shadows menghadirkan “Hidup Setara”, sementara band punk Sukatani kembali dengan “Bayar Bayar Bayar” dan “Gegap Gempita”, lagu yang pernah dibungkam karena kritiknya terhadap pungutan liar. Marky Najoan menambah kedalaman dengan “Kuning”, sebuah renungan tentang idealisme dan moral.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release