Sutradara, Produser dan Para Pemain Film Surat untuk Masa Mudaku (Sagita/Indozone)
INDOZONE.ID - Netflix merilis film Indonesia yang hadir pada akhir Januari 2026 adalah 'Surat untuk Masa Mudaku', sebuah drama yang disutradarai oleh Sim F.
Film ini dibintangi deretan talenta lintas generasi, mulai dari Theo Camilo Taslim, Fendy Chow, Agus Wibowo, Aqila Herby, Cleo Hanura Nazhifa, hingga Halim Latuconsina.
'Surat untuk Masa Mudaku' mengangkat kisah tentang seorang remaja pemberontak dan seorang pengasuh panti yang tertutup.
Baca juga: 15 Drakor Netflix 2026 yang Wajib Ditonton: Dari Romatis, Thriller, sampai Horor
Keduanya menjalin ikatan tak terduga di sebuah panti asuhan, sembari berusaha berdamai dengan masa lalu yang penuh luka dan rasa kehilangan.
Film ini kembali menandai kiprah Sim F, sutradara yang sebelumnya sukses lewat Susi Susanti: Love All (2019). Kali ini, kembali menggarap film bernuansa drama emosional yang tayang eksklusif di Netflix.
Dari sisi produksi, film ini diproduseri oleh Wilza Lubis, sosok di balik film-film seperti 27 Steps of May (2018) dan Galih dan Ratna (2017). Kehadiran Wilza semakin menguatkan karakter drama realistis yang menjadi napas utama film ini.
Baca juga: 6 Film Indonesia Dilarang Tayang di Bioskop, Penuh Kontroversi!
Untuk jajaran pemain, Fendy Chow yang dikenal lewat Chrisye (2017), Toko Barang Mantan (2020), dan Ayah Mengapa Aku Berbeda (2011) memerankan karakter Kefas versi dewasa. Sementara itu, tokoh Kefas muda diperankan oleh Theo Camilo Taslim, yang menjadi pusat cerita.
Dalam konferensi pers yang digelar pada 28 Januari 2026 di Senayan City, Sim F mengungkap bahwa film ini terinspirasi dari kisah nyata kehidupan panti asuhan.
“Ini diangkat dari kisah nyata panti asuhan, mengambil latar belakang kehidupan masa lalu. Bagaimana sedihnya mereka, bagaimana mereka punya harapan, dan perasaan ditinggalkan itu benar-benar nyata,” ujar Sim F.
Baca juga: 7 Drakor Terbaru Februari 2026 Paling Dinanti, Tayang di Netflix dan Disney+!
Ia menambahkan bahwa tema utama film ini adalah “ditinggalkan”, sebuah isu yang menurutnya sangat relevan dan universal.
“Temanya tentang ditinggalkan. Seperti kemarin masa pandemi dan sebagainya, pasti ada rasa ditinggalkan. Jadi ceritanya cukup relevan dan universal,” lanjutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung