Deva Mahendra dan Mawar de Jongh, pemeran 'Luka, Makan, Cinta' (INDOZONE/M Padli)
INDOZONE.ID - Serial Luka, Makan, Cinta menghadirkan lebih dari sekadar drama kuliner dan romansa. Lewat wawancara para pemainnya, terutama Deva Mahenra dan Mawar de Jongh, terlihat jelas bahwa serial ini justru membawa pesan yang sangat dekat dengan kehidupan penonton Gen Z.
Salah satunya, tentang perjuangan membangun karier, konflik keluarga, hingga cara mengekspresikan kasih sayang yang sering kali tidak mudah dipahami. Seperti menyinggung soal pewaris dan perintis yang sempat viral
Melalui karakter Dennis, seorang head chef yang ambisius, Deva Mahenra menyoroti isu yang belakangan sering diperbincangkan di kalangan anak muda, yaitu tentang “perintis” dan “pewaris”. Dalam wawancaranya, ia menegaskan bahwa serial ini ingin meluruskan cara pandang tersebut.
“Kemarin ada sempat viral soal perintis dan pewaris. Nah ini kehadiran Dennis tuh hadir untuk meluruskan itu lagi, bahwa meskipun lu adalah pewaris, lu juga harus perintis. Karena yang namanya karier tuh dimulai dari bawah, gak ada yang mulai dari tengah, gak ada yang mulai dari atas,” kata Deva di hadapan wartawan di kawasan Menteng, Jakrta Pusat, Rabu (15/4/2026) kemarin.
Pesan ini terasa sangat relevan bagi Gen Z yang hidup di tengah tekanan sosial media dan ekspektasi sukses instan. Serial ini seolah mengingatkan bahwa di balik pencapaian, selalu ada proses panjang yang harus dijalani, tanpa shortcut.
Para pemeran Luka. Makan, Cinta plus sutradaranya (INDOZONE/M Padli)
Sementara itu, karakter Luka yang diperankan Mawar de Jongh membawa isu yang tak kalah dekat dengan kehidupan Gen Z, yaitu hubungan antara orang tua dan anak, dimana sang ibu bersikap tegas dan keras, yang diasosiasikan 'didikan VOC'. Dalam serial ini, dinamika keluarga digambarkan tidak hitam-putih, melainkan penuh lapisan emosi dan perbedaan sudut pandang.
“Kalau dari aku mungkin melihat dari dinamika hubungan ibu dan anak di serial ini. Jadi memang cara didik keduanya itu memang beda. Kayak ibu, Ibu Sari dididik sama ibunya beda dengan cara parenting zaman sekarang.”
Mawar menekankan bahwa perbedaan cara didik ini sering kali menimbulkan kesalahpahaman, terutama bagi generasi muda yang lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan.
“Tapi bukan berarti ibu tuh gak sayang, mungkin caranya beda, love language-nya beda. Dan mungkin ada Gen Z yang tidak bisa diungkapkan gitu.”
Salah satu kekuatan utama serial ini adalah bagaimana ia menggambarkan “bahasa cinta” yang berbeda antar generasi. Apa yang dianggap sebagai bentuk kasih sayang oleh orang tua, belum tentu bisa dirasakan sama oleh anak.
“Jadi itu sih, mengerti kalau background yang berbeda itu bisa bikin personality-nya juga jadi beda. Dan cara mengungkapkan sayangnya juga jadi beda.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan