Film "Perang Kota" tayang 30 April 2025. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
INDOZONE.ID - Aktris Ariel Tatum mengakui bahwa dalam memerankan tokoh Fatimah dalam film Perang Kota yang disutradarai Mouly Surya ini banyak berdiskusi dengan berbagai pihak untuk mendalami karakter Fatimah yang penuh makna.
Karena di film tersebut, Fatimah merepresentasikan sosok yang tangguh dan berpendirian kuat.
Kisahnya berlatar di Indonesia pasca-kemerdekaan, sebuah masa yang mungkin hanya bisa kita bayangkan karena tidak kita alami secara langsung.
Baca Juga: Sinopsis dan Pemain Film 'Perang Kota', Drama Penuh Emosi Sejarah Indonesia Berlatar 1946
Di tengah situasi penuh gejolak itu, Fatimah tampil sebagai perempuan yang dengan keberanian luar biasa, menanggung beratnya perjuangan hidup.
Walaupun waktu terus berjalan dan zaman telah berubah, nilai-nilai perjuangannya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini.
"Cuma aku rasa masih sangat amat relevan ketika kita coba tarik ke era saat ini gitu ya, resiliensi Fatimah, semangat perjuangannya, walaupun kami Fatimah, dan saya berada di era yang berbeda, peperangan batin tersebut, perjuangan dalam kehidupan, mau jadi seorang perempuan, mau jadi seorang laki-laki, kita hidup itu pasti penuh dengan perjuangan dan setiap hari pasti ada peperangan batin yang kami rasakan di dalam berbagai aspek kehidupan, jadi aku rasa itu yang bisa aku dapat, bisa koneksi dengan karakter Fatimah gitu, ketika aku baca skenarionya, tentang semua hal yang dia perjuangkan ke aku gitu di era modern ini," ungkap Ariel Tatum saat jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, pada Senin (21/4/2025).
Lewat sosok Fatimah, Ariel Tatum menemukan cerminan atas perjalanan pribadinya di zaman modern ini.
Ada garis yang menghubungkan antara Ariel Tatum dan karakter Fatimah dengan perjuangan yang berbeda konteks, namun digerakkan oleh semangat dan keteguhan hati yang sama.
Ariel Tatum mengungkapkan bahwa proses kreatif dalam membangun karakter tidaklah sederhana.
Sebelum memasuki tahap produksi dan syuting, para pemeran utama diberi ruang waktu yang cukup panjang, lebih dari empat bulan, untuk benar-benar menyelami peran mereka.
"Kami diberkati untuk waktu yang cukup panjang sebelum memasuki proses produksi sebelum syuting, sekitar ada empat bulan lebih kami bertiga dan teman-teman yang lain juga, terkadang bersama-sama, kami bertiga suka dibilang hampir setiap hari enam sampai delapan jam bersama-sama, sampai membuat skema di dalam workshop tersebut gitu, karena kami semua percaya bahwa untuk menghidupkan sebuah karakter," jelas Ariel Tatum.
Workshop yang mereka jalani bukan hanya tempat belajar dialog, melainkan menjadi ruang eksplorasi emosional dan psikologis karakter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung