Sabtu, 25 OKTOBER 2025 • 17:36 WIB

Shutter: Film Horor yang Menyimpan Teror dengan Lapisan Metafora Trauma dan Keadilan

Author

Seniman film di balik layar film Shutter (Gunawan). 

INDOZONE.ID - Falcon Pictures kembali merilis film horor terbaru berjudul Shutter

Setelah kesuksesan besar Kang Solah From Kang Mak X Nenek Gayung, rumah produksi ini menghadirkan kisah yang tak hanya memicu adrenalin, tapi juga mengajak penonton merenung tentang realitas sosial di sekitar mereka. 

Disutradarai oleh Herwin Novianto, film ini menjadi salah satu proyek horor yang paling dinanti di tahun 2025.

Shutter merupakan adaptasi dari film legendaris Thailand karya Banjong Pisanthanakun, yang dikenal sebagai salah satu film horor Asia paling ikonik. 

Versi Indonesia ini menawarkan perspektif baru dengan menggabungkan unsur supranatural dan isu sosial yang relevan. 

Baca juga: Jourdy Pranata Hidupkan Sosok “Si Paling Aktor”, Film Komedi Aksi Terbaru MD Pictures

Herwin Novianto berhasil mengubah kisah klasik ini menjadi refleksi mendalam tentang keadilan, rasa bersalah, dan luka batin yang tersembunyi.

Kisahnya berfokus pada Darwin, fotografer muda yang hidupnya berubah drastis setelah kecelakaan tragis bersama kekasihnya, Pia. 

Dalam malam yang sunyi, mobil yang mereka kendarai menabrak seorang perempuan misterius. 

Sejak peristiwa itu, bayangan aneh mulai muncul di setiap hasil foto Darwin. 

Sosok perempuan yang sama terus menghantui, seolah menuntut kebenaran yang tak pernah diungkap.

Baca juga: Sinopsis Abadi Nan Jaya: Film Zombie Indonesia dengan Sentuhan Budaya, Siap Bikin Merinding!

Pia kemudian menemukan bahwa sosok tersebut bukan sekadar arwah penasaran, melainkan korban dari kejahatan masa lalu yang kelam. 

Penelusurannya menyingkap kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus, memperlihatkan bagaimana kekuasaan sering membungkam korban dan menutup akses pada keadilan. 

Di sinilah Shutter menghadirkan ketegangan ganda antara dunia gaib dan realitas sosial yang menakutkan.

Film ini menyoroti pentingnya ruang aman bagi semua orang melalui kampanye #SafespaceForAll. 

Dengan mengangkat isu ketidaksetaraan gender dan trauma yang sering diabaikan, Shutter bukan hanya film horor biasa, melainkan seruan moral untuk membuka mata terhadap kekerasan yang terjadi di sekitar kita.

Baca juga: 5 Rekomendasi Film yang Bisa Jadi Inspirasi Kamu untuk Memulai Bisnis

Produser Falcon Pictures, Frederica, menjelaskan bahwa film ini punya dua lapisan makna. 

“Di permukaannya ini adalah film horor mencekam. Tapi di balik itu, Shutter menyimpan pesan tentang keadilan dan keberanian untuk bersuara. Kami ingin penonton bukan hanya takut, tapi juga tersentuh dan berpikir,” ujarnya.

Sang sutradara, Herwin Novianto, menegaskan bahwa kengerian dalam film ini tidak melulu soal hantu. 

“Saya ingin membuat horor yang punya jiwa. Rasa takut dalam Shutter bukan hanya datang dari hantu, tapi dari kenyataan pahit yang sering diabaikan. Bayangan dalam film ini adalah metafora bagi trauma dan kebenaran yang ditekan,” katanya.

Nuansa mencekam Shutter semakin lengkap dengan lagu tema “Di Batas Malam” karya Mondo Gascaro yang dinyanyikan Danilla Riyadi. 

Baca juga: Atiqah Hasiholan Tak Takut Stereotipe, Total Perankan Dukun Pelet di “Sosok Ketiga: Lintrik”

Dengan deretan bintang seperti Vino G. Bastian, Anya Geraldine, Niken Anjani, Rangga Nattra, Dewi Gita, Michelle Tahalea, Angie Ang, dan Nugie, film ini siap menebar teror sekaligus menyentuh nurani penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai 30 Oktober 2025.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU