Pelangi di Mars, Film Petualangan Keluarga Berteknologi Hybrid Siap Wujudkan Imajinasi Anak Bangsa ke Planet Merah
INDOZONE.ID - Rumah produksi Mahakarya Pictures merilis teaser perdana film keluarga fiksi-ilmiah berjudul Pelangi di Mars. Acara yang diselenggarakan di XXI Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2025), itu langsung mencuri perhatian karena menampilkan perpaduan live action dan animasi 3D secara utuh, kombinasi yang masih sangat jarang dieksplorasi dalam sinema nasional.
Film tersebut dipersiapkan menjadi tontonan layar lebar pada 2026 yang menyuguhkan petualangan epik bernuansa ilmiah, namun tetap menyentuh ranah emosional keluarga.
Karya ini lahir dari tangan sutradara sekaligus desainer grafis berdarah seni tinggi, Upie Guava. Ia berkolaborasi dengan penulis naskah Alim Sudio serta produser Dendi Reynando untuk membangun dunia imajinatif Mars yang digarap layaknya semesta penuh kehidupan. Di balik fokus visual futuristik, film tersebut disusun dengan alur drama keluarga dan makna kemanusiaan yang kuat sehingga tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga kehangatan.
Baca juga: “Pelangi di Mars”: Film Sci-Fi Karya Anak Bangsa Tawarkan Petualangan Epik di Planet Merah
Kekuatan Pelangi di Mars terletak pada tokoh utama bernama Pelangi, yang digambarkan sebagai manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di permukaan Mars. Ia hidup berdampingan dengan robot-robot cerdas bernama Batik, Sulil, Kimchi, Yoman, dan Petya yang menjadi rekan sehari-hari sekaligus keluarganya. Kehidupan yang semula tenang berubah ketika Pelangi diminta mengemban misi penting untuk menemukan mineral ajaib, satu-satunya harapan untuk menyelamatkan Bumi dari bencana.
Agar interaksi antarkarakter manusia dan robot dapat terasa hidup, teknologi hybrid digunakan secara serius dalam proses produksi. Para pemeran seperti Messi Gusti, Myesha Lin Adeeva, Livy Renata, hingga aktris Lutesha ikut menghidupkan sisi dramatis dari film tersebut. Aktor Rio Dewanto juga berperan penting dan siap mengantar penonton ke dalam perjalanan emosional melalui konflik dan kasih sayang.
Saat teaser tayang perdana, Dendi Reynando menegaskan bahwa tujuannya bukan hanya menampilkan cuplikan visual, tetapi mengajak publik memasuki semesta Pelangi di Mars. Dunia yang dimaksud bukan sekadar gambaran atmosfer Mars, melainkan ruang naratif yang memadukan teknologi, keluarga, dan rasa persahabatan menjadi satu kesatuan cerita.
“Teaser ini kami siapkan sebagai pintu masuk ke dunia Pelangi di Mars,” ujar Dendi.
Upie Guava mengakui bahwa proses penciptaan film ini penuh tantangan karena berupaya memadukan teknologi animasi dan live action secara seimbang. Namun, tantangan tersebut justru memantik kreativitas yang lebih besar.
“Teknologi hybrid memberi ruang untuk imajinasi yang lebih luas, namun tetap humanis karena inti film ini adalah hubungan keluarga dan persahabatan,” ungkapnya.
Baca juga: Menanti "Pelangi di Mars": Film Sci-Fi asal Indonesia yang Pakai Teknologi Canggih
Dukungan besar untuk film ini juga datang dari Ifan, vokalis band Seventeen yang kini menjabat sebagai petinggi Perusahaan Film Negara (PFN). Ia menilai bahwa di era saat ini, batas antara musik dan visual semakin menipis, dan industri film memerlukan original soundtrack yang kuat, sebagaimana industri musik membutuhkan visual.
“Balik lagi, di film, original soundtrack itu ternyata jadi salah satu faktor penting dalam pengembangan sebuah film,” tuturnya.
Ifan bercerita bahwa ia sudah lama mengenal Upie Guava dan Dendi Reynando sejak bekerja sama dalam proyek video klip band Seventeen. Meskipun baru enam bulan menjabat di PFN dan termasuk pihak terakhir yang turut mendukung film tersebut, ia tak ragu memberikan lampu hijau setelah mengetahui gagasan proyek ini.
“Industri perfilman Indonesia di 2024 sedang sunrise. Tapi Pelangi di Mars ini beda. Ini melambangkan masa depan industri film Indonesia,” katanya.
Baginya, Pelangi di Mars tidak hanya sekadar proyek hiburan, tetapi karya yang merepresentasikan identitas bangsa. Ia menyebut bahwa film ini berhasil menghadirkan rasa kebangsaan melalui kisah petualangan keluarga dengan sudut pandang yang positif. Ia pun berkomitmen bahwa PFN akan mengawal film tersebut secara penuh.
“Kami tidak hanya memfasilitasi, tapi siap mensupport hingga mendistribusikan film ini ke seluruh Indonesia,” ucapnya menegaskan.
Melalui gagasan besar yang melibatkan teknologi canggih, pesan kemanusiaan, serta dukungan dari para pelaku industri, Pelangi di Mars dipandang sebagai langkah ambisius yang menegaskan bahwa imajinasi Indonesia mampu bersaing dan menembus batas dunia sinema global.
Film ini menargetkan penonton keluarga dan anak-anak, dengan harapan dapat menanamkan kecintaan pada pengetahuan dan keberanian mengejar mimpi. Jika tak ada perubahan, Pelangi di Mars akan hadir di bioskop Indonesia pada 2026 sebagai suguhan petualangan penuh hati yang siap menjadi kebanggaan baru layar lebar Tanah Air.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan