Sabtu, 14 FEBRUARI 2026 • 12:14 WIB

Lahir dari Keresahan Orang Tua, Pelangi di Mars Jadi Gerakan Baru Film Anak Indonesia

Author

Tim Produksi Film Pelangi di Mars (Indozone/Sagita)

INDOZONE.ID - Di balik megahnya visual dan ambisi besar  film Pelangi di Mars, ada cerita yang jauh lebih personal.

Film ini bukan sekadar proyek sinema berteknologi tinggi, melainkan lahir dari kegelisahan seorang ayah, kecintaan seorang sutradara pada dunia anak, serta semangat kolektif untuk menghadirkan IP (intellectual property) Indonesia yang membanggakan.

Baca juga: Deretan Film Korea yang Sedang Tayang di Bioskop Indonesia 2026

Bagi produser Dendi Reynando, ide film animasi ini bermula dari keresahan sederhana sebagai orang tua. Ia merasa pilihan film anak dan keluarga di Indonesia masih sangat terbatas.

Dendi Reynando Selaku Produser Film Pelangi di Mars (Indozone/Sagita)

“Kids and family movie itu undersupply di Indonesia,” ujarnya pada jumpa pers di CGV Grand Indonesia Mall, Jakarta (13/02/2026).

Sebagai ayah dari tiga anak yang kerap mengajak keluarganya ke bioskop, ia merasakan langsung kebutuhan akan tontonan lokal yang berkualitas.

Dari situlah gagasan besar itu tumbuh. Prosesnya tidak instan, melainkan memakan waktu hingga lima tahun pengembangan dari film bergenre Sci-fi ini.

Baca juga: 7 Film Horor Indonesia yang Tembus Luar Negeri, Diakui Dunia!

Menurutnya, perjalanan panjang tersebut membuktikan satu hal yakni, talenta Indonesia tidak pernah kurang.

“Ketika orang Indonesia di-push dan punya semangat kolektif, ternyata bisa menghasilkan karya seperti ini.” tutur Dendi.

Baginya, Pelangi di Mars bukan sekadar film keluarga ataupun anak-anak, melainkan bukti bahwa industri kreatif Indonesia mampu melangkah lebih jauh jika diberi ruang dan keberanian.

Dunia Anak yang Lebih Menarik dari Dunia Dewasa

Upie Guava Sebagai Sutradara Film Pelangi di Mars (Indozone/Sagita)

Sementara itu, sutradara Upie Guava melihat film ini sebagai refleksi dari kegemarannya terhadap dunia anak. Ia mengaku selalu merasa lebih nyaman berada di tengah anak-anak dibanding orang dewasa.

“Saya lebih suka nongkrong sama anak-anak. Buat saya, dunia mereka itu menarik.” ungkapnya.

Sebagai seorang filmmaker, Upie percaya bahwa karya lahir dari keresahan pribadi. Dalam kasus ini, keresahannya adalah keinginan untuk menjelajahi imajinasi sejauh mungkin dan melampaui batas kemampuan teknis yang ia dan tim miliki saat itu.

Baca juga: 14 Film Indonesia Terbaru Februari 2026, Gas Nonton di Bioskop!

“Mindset-nya bukan skill kami saat itu, tapi bagaimana caranya pergi sejauh-jauhnya.”

Pendekatan itu membuat proses produksi menjadi eksplorasi besar. Film ini bahkan melibatkan kolaborasi lintas animator, penari, hingga para pemain teater, yang menciptakan orkestrasi kreatif dalam produksi film konvensional.

Dalam jumpa pers, Upie menyebut pengalaman tersebut sebagai sebuah movement. Banyak talenta dari berbagai daerah merasa ikut memiliki film ini.

Ada yang datang menghampiri dan berkata bahwa mereka turut mengerjakan satu adegan animasi tertentu.

Bagi sang sutradara, momen-momen seperti itu menjadi bukti bahwa Pelangi di Mars telah menjelma lebih dari sekadar proyek film.

Baca juga: 13 Film Animasi Indonesia Bikin Bangga, Ada yang Tembus Mancanegara

Lebih dari Film: Membangun IP Indonesia

Ambisi film ini juga tidak berhenti di layar lebar. Dendi Reynando selaku produser, mengungkapkan bahwa sejak awal mereka sudah menyiapkan cetak biru semesta (universe) untuk pengembangan lebih lanjut.

“Harapannya nggak berhenti di satu film.” ujarnya.

Ia menyoroti fakta bahwa di toko mainan anak-anak, hampir tidak ada IP asli Indonesia yang mendominasi. Menurut nya, pasar animasi selama ini dipenuhi karakter global.

“Kenapa kita harus selalu benchmark ke luar? Kenapa nggak kita yang jadi pembanding?” tegasnya.

Baca juga: IIni Dia Sinopsis Film Agak Laen: Menyala Pantiku yang Tembus Jadi Nomor 1 Film Terlaris Indonesia

Karena itu, Pelangi di Mars dirancang sebagai fondasi. Jika mendapat respons baik dari penonton, sekuel dan spin-off sudah disiapkan.

Karakter-karakternya pun diharapkan bisa hidup dalam berbagai bentuk, mulai dari mainan hingga produk kreatif lain, sehingga anak-anak Indonesia memiliki tokoh yang dekat dengan identitas mereka sendiri.

Dari Orang Tua, untuk Anak Indonesia

Pada akhirnya, Pelangi di Mars adalah pertemuan antara keresahan dan cinta dari seorang ayah yang rindu tontonan berkualitas bagi anaknya.

Upie Guava sebagai sutradara yang terpikat oleh imajinasi dunia anak. Dan sebuah tim yang percaya bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan IP global.

Baca juga: Film Sci-fi “Pelangi Di Mars” Bakal Tayang di Libur Lebaran 2026.

Film Pelangi di Mars mungkin bercerita tentang petualangan di planet merah, tetapi akarnya tertanam pada keluarga, pada anak-anak, dan pada mimpi untuk menghadirkan karya yang bisa dibanggakan bersama.

Pelangi di Mars dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada Lebaran 2026.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU