INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu nonton film atau baca cerita, terus langsung melabel satu karakter sebagai penjahat? Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, belum tentu ia benar-benar jahat.
Di dunia cerita, baik itu film, novel, sampai serial, ada satu peran penting yang hampir selalu muncul, yaitu antagonis.
Namun masalahnya, masih banyak yang salah paham soal istilah ini. Banyak yang menganggap antagonis adalah villain, padahal sebenarnya nggak sesederhana itu.
Nah, lewat artikel ini, kamu bakal diajak buat membahas pengertian antagonis, jenis-jenisnya, sampai contoh karakternya.
Siap-siap, karena setelah ini cara kamu melihat karakter di film atau cerita bisa jadi bakal berubah total!
Penjelasan Lengkap Antagonis
Definisi
Secara singkat, antagonis adalah sumber masalah bagi protagonis (tokoh utama) dalam sebuah cerita. Ada banyak cara penulis menghadirkan berbagai rintangan untuk mengganggu perjalanan protagonis.
Nah, antagonis adalah kekuatan dalam cerita yang dihadapi oleh protagonis. Hal ini bentuknya bisa manusia, alam, maupun sesuatu yang lain.
Kata antagonis sendiri berasal dari bahasa Yunani agonizesthai, yang berarti berjuang melawan. Setiap protagonis pasti butuh kekuatan antagonis.
Namun, itu nggak selalu harus berupa karakter. Hambatan utama bisa saja berupa lingkungan, hewan, ide atau konsep, sampai kelemahan dalam diri sendiri.
Baca juga: 10 Film Superhero Paling Brutal dan Gelap, Gak Cocok Buat Anak-anak!
Karakteristik Umum
Biar lebih gampang membedakannya, ada beberapa karakteristik umum antagonis, antara lain:
- Berlawanan dengan protagonis
- Sering (tapi nggak selalu) bersifat jahat
- Menghambat perjalanan protagonis
- Punya peran penting dalam cerita
- Memiliki tujuan yang bertentangan dengan protagonis
Hubungan antara protagonis dan antagonis itu krusial dalam storytelling. Bukan sekadar yang satu ada karena yang lain ada.
Namun, hubungannya lebih ke siapa atau apa yang paling cocok jadi tantangan terbesar untuk tokoh utama.
Baca juga: 20 Film Superhero Terburuk Sepanjang Masa Versi Rotten Tomatoes
Protagonis vs Antagonis
Cara paling gampang memahami antagonis adalah dengan melihat lawannya, yaitu protagonis. Keduanya punya hubungan yang saling berkaitan (simbiotik). Konflik muncul dari benturan tujuan mereka.
Contohnya:
Protagonis: Karakter A menginginkan X
Antagonis: Karakter B menginginkan Z
X dan Z saling bertentangan
Sebagai contoh, kita bahas hubungan antagonis dan protagonis di The Lion King.
Protagonis: Simba ingin keadilan atas kematian ayahnya
Antagonis: Scar ingin kekuasaan penuh atas Pride Lands
Tujuan mereka saling bertolak belakang dan di situlah konflik terjadi. Puncak dari konflik ini disebut klimaks.
Contoh Antagonis dalam Film
Film adalah salah satu medium yang paling sering menampilkan antagonis menarik, bahkan kadang lebih ikonik daripada tokoh utamanya. Beberapa contoh antagonis terkenal:
- The Joker di The Dark Knight
- Darth Vader di The Empire Strikes Back
- Saruman di The Lord of the Rings
- Voldemort di Harry Potter
- Hannibal Lecter di The Silence of the Lambs
- Scar di The Lion King
- Agent Smith di The Matrix
Mayoritas contoh di atas memang villain atau penjahat. Namun, penting diingat, kalau nggak semua antagonis itu jahat.
Jenis-jenis Antagonis
Sama seperti protagonis, antagonis juga ada berbagai jenis. Penting banget buat penulis memahami opsi ini supaya bisa menentukan mana yang paling cocok untuk cerita mereka.
Berikut beberapa jenis antagonis utama:
- Villain (penjahat klasik)
- Anti-Villain (punya niat baik tapi cara salah)
- False Antagonist (terlihat jahat di awal, tapi ternyata bukan)
- Hidden Antagonist (antagonis tersembunyi)
- Inanimate Antagonistic Force (bukan makhluk hidup, seperti alam)
- Inner Antagonist (konflik dalam diri sendiri)
- Hero Antagonist (tokoh baik yang justru menghalangi protagonis)
Beberapa jenis ini bisa saling tumpang tindih, tapi masing-masing punya rasa konflik yang berbeda. Ibarat milih menu, penulis perlu tahu mana yang paling pas untuk cerita yang ingin disampaikan.
Penjelasan Jenis-jenis Antagonis
Bedanya Antagonis dan Villain
Banyak orang mikir kalau semua antagonis itu pasti villain alias penjahat. Padahal, nggak selalu begitu. Memang villain itu jenis antagonis yang paling sering muncul dan paling gampang diingat, tapi bukan satu-satunya.
Biasanya, antagonis memang punya sifat yang berlawanan banget sama protagonis (tokoh utama). Mereka jadi penghalang utama yang bikin si protagonis susah mencapai tujuannya. Seringnya, mereka rela melakukan apa aja demi menggagalkan si tokoh utama.
Contoh yang paling ikonik adalah Joker di The Dark Knight. Karakternya emang dibuat pure chaos, bikin kekacauan di Gotham dan jadi lawan sempurna buat Batman. Ibaratnya, mereka itu kayak dua sisi dari satu koin.
Hero Antagonist
Nggak semua antagonis jahat. Ada juga yang justru baik, tapi tetap jadi lawan si protagonis. Tipe ini biasa disebut hero antagonist. Biasanya, karakter ini muncul buat melawan protagonis yang tipenya anti-hero.
Lalu, apa sebenarnya anti-hero? Singkatnya, ia adalah tokoh utama, tapi nggak selalu bertindak seperti pahlawan. Kadang egois, bikin keputusan yang salah, atau hidupnya agak berantakan.
Contohnya ada di film Catch Me If You Can. Frank Abagnale adalah protagonis (anti-hero), sementara Carl Hanratty jadi antagonis.
Menariknya, sebagai penonton kita sering justru setuju sama nilai moral Carl. Ia polisi yang niatnya baik. Namun di sisi lain, kita juga tetap mengikuti perjalanan Frank.
Jadi, rasanya kayak nonton permainan kejar-kejaran kucing dan tikus. Kita bisa mengerti dua-duanya, bahkan bisa simpati ke dua sisi.
Anti-Villain
Kalau tadi ada anti-hero, di sisi villain juga ada yang namanya anti-villain. Pernah nggak nonton karakter jahat, tapi pas ia menjelaskan alasannya, kamu malah setuju, Nah, itu yang disebut anti-villain.
Gampangnya, anti-villain adalah karakter yang melakukan hal buruk, tapi alasannya masuk akal atau bahkan bisa dipahami.
Contohnya adalah Roy Batty di Blade Runner. Ia bikin kekacauan, tapi tujuannya simpel, pengin hidup lebih lama. Mengingat ia diciptakan dengan umur pendek, rasa frustrasinya jadi terasa manusiawi banget.
Karakter kayak gini biasanya lebih menarik, karena nggak cuma sekadar jahat tanpa alasan. Mereka punya sisi manusiawi yang bikin kita mikir dua kali.
False Antagonist (Antagonis Palsu)
False antagonist punya konsep yang agak mind-blowing. Intinya gini, gimana kalau karakter yang kita kira jahat ternyata justru orang baik dari awal? Nah, false antagonist adalah karakter yang kelihatannya seperti villain di awal cerita.
Namun, di akhir ia malah ketahuan kalau sebenarnya ada di pihak protagonis. Biasanya ini terjadi karena informasi sengaja ditahan dari penonton dan tokoh utama.
Contoh paling terkenal adalah Severus Snape di Harry Potter. Sepanjang cerita, Harry dan kita sebagai penonton mikir kalau Snape itu jahat. Bahkan, ia dicurigai sebagai pengikut Voldemort.
Namun, semuanya kebalik di akhir. Ternyata, Snape selama ini diam-diam melindungi Harry sejak ibunya meninggal. Plot twist banget, kan?
Hidden Antagonist (Antagonis Tersembunyi)
Kalau false antagonist itu kelihatannya jahat tapi ternyata baik, hidden antagonist jutsru kebalikannya. Karakter yang awalnya kelihatan baik, tapi ternyata justru villain.
Contoh klasiknya ada di Coraline. Di awal, Other Mother dan Other Father terlihat jauh lebih menyenangkan dibanding orang tua asli Coraline. Mereka perhatian, seru, dan penuh kasih.
Namun, makin lama cerita berjalan, kelihatan kalau semuanya itu cuma topeng. Mereka punya niat jahat yang tersembunyi.
Inner Antagonist (Musuh dari Dalam Diri)
Sebenarnya, kita semua punya antagonis dalam diri sendiri.
Contoh simpelnya, tahu harus tidur, tapi malah lanjut nonton video random. Contoh lainnya, kita niat diet, tapi tetep makan cokelat. Nah, ini contoh kecil dari inner antagonist.
Inner antagonist adalah sisi dalam diri yang bikin kita mengambil keputusan buruk atau merugikan diri sendiri.
Ada kutipan terkenal, “Di dalam dirimu ada dua serigala, dan kamu harus memberi makan yang baik.”
Kalau si protagonis memberi makan sisi buruknya, ia bisa jadi musuh terbesar buat dirinya sendiri.
Contohnya ada di film Black Swan. Nina terlihat bersaing dengan Lily, tapi sebenarnya musuh terbesarnya adalah obsesinya sendiri.
Secondary Antagonist
Biasanya, dalam satu cerita cuma ada satu protagonis. Namun untuk antagonis bisa banyak. Selain antagonis utama, ada juga yang disebut secondary antagonists (antagonis pendukung). Mereka bukan musuh utama, tapi tetap jadi penghalang buat si protagonis.
Contohnya di film Kill Bill karya Quentin Tarantino. Bill jadi antagonis utama, sementara Deadly Viper Assassination Squad adalah antagonis pendukung. Mereka semua punya peran masing-masing dalam menghalangi perjalanan tokoh utama (The Bride).
Nah, itulah pengertian antagonis, karakteristik, dan contohnya di film. Jadi, setelah tahu semua ini, apakah kamu masih yakin kalau antagonis selalu berarti penjahat?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Studio Binder