Mengenal Sosok Pahlawan Garut Yang Chil Seong, Oppa Korea yang akan Diperankan Kim Bum di 'Tanah Air Kedua'
INDOZONE.ID - Aktor Korea Selatan, Kim Bum akan memerankan Yang Chil Seong dalam film Tanah Air Kedua, yang diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Garut dan Korea Selatan.
Film ini akan menceritakan perjuangan seorang pemuda asal Korea, Yang Chil Seong alias Komarudin, selama masa Perang Dunia ke-II yang membela masyarakat Indonesia di wilayah Garut, Jawa Barat.
Nantinya, Kim Bum akan beradu akting dengan artis kenamaan Tanah Air, Maudy Ayunda, yang akan berperan sebagai istri Yang Chil Seong.
Sosok Pahlawan Garut Yang Chil Seong
Lantas, siapa sebenarnya Yang Chil Seong ini? Simak penjelasan mengenai sosoknya berikut.
Profil Yang Chil Seong
Yang Chil Seong merupakan pria kelahiran Wanjoo, Jeolla Utara, Korea pada 29 Mei 1919. Perjalanan hidupnya dimulai ketika Jepang membawanya ke Indonesia di usia 23 tahun.
Yang Chil Seong memiliki nama lain, yaitu Komarudin. Dia merupakan seorang muslim dan menikah dengan orang Wanaraja, Garut.
Yang Chil Seong ke Indonesia
Kisah Yang Chil Seong itu bermula ketika Jepang membawanya ke Indonesia. Pada saat itu, selain menjajah Indonesia, Jepang juga menjajah kawasan Korea.
Tentara Jepang membawanya ke Indonesia pada tahun 1942. Dia ditugaskan menjaga tahanan di Bandung.
Ketika Jepang menyerah, tidak semua tentaranya kembali ke negara tersebut.
Yang Chil Seong dan dua tentara Jepang bernama Aoki dan Hasegawa memilih tetap bertahan di Indonesia, lalu mereka pergi ke Kabupaten Garut dan memutuskan diri bergabung berjuang bersama pejuang-pejuang pribumi yang menamakan diri pasukan Pangeran Papak.
Gabung dengan Pejuang Pribumi
Bergabungnya Yang dan dua rekan asal Jepang dengan pejuang pribumi itu menjadikan mereka harus berganti nama dari Yang Chil Seong menjadi nama Indonesia, Komarudin. Begitu pula, Aoki menjadi Abubakar dan Hasegawa menjadi Usman.
Yang juga menikahi seorang perempuan Kabupaten Garut. Dia memutuskan memeluk agama Islam. Begitu juga dengan dua tentara Jepang penganut agama Islam.
Mereka bertiga memiliki kepiawaian. Misalnya, Yang adalah ahli pembuat bom, sedangkan dua tentara Jepang memiliki kemampuan dalam strategi perang sehingga kekuatan pejuang di Garut makin kuat.
Kisah heroik Yang dengan keahliannya membuat bom itu dibuktikan dengan peristiwa peledakan jembatan Sungai Cimanuk atau sering dikenal Jembatan PTG (Pabrik Tenun Garut) untuk menghalau tentara Belanda.
Aksinya itu membuat pasukan Belanda yang bermaksud menjajah kembali Indonesia memutuskan untuk mundur. Namun, akhirnya Belanda menyerang kembali pasukan Pangeran Papak dengan berbagai strategi, termasuk menyebarkan mata-mata untuk mencari pejuang kewarganegaraan asing itu.
Baca Juga: Kim Bum Akan Gelar Fan Meeting 'Between You and Me' di Jakarta September Mendatang
Tewas Ditembak Mati Belanda
Kisah hidup Yang dan pejuang asal Jepang berakhir tragis setelah pasukan Belanda mengetahui keberadaan mereka bertiga. Tentara Belanda itu lalu menangkapnya di Gunung Dora, daerah perbatasan Kabupaten Garut dengan Tasikmalaya.
Mereka bersama seorang pejuang pribumi dibawa oleh tentara Belanda, kemudian diadili hingga diputuskan Yang dan dua tentara Jepang dihukum mati, sedangkan pejuang pribumi mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.
Takdir hidup mereka bertiga berakhir dengan cara ditembak mati oleh tentara Belanda di Lapang Kerkof, Kabupaten Garut, di hadapan warga setempat pada tanggal 10 Agustus 1949.
Ketiga jasad pejuang itu dikuburkan secara Islam sesuai dengan permintaan terakhirnya di pemakaman umum Pasir Pogor, Kecamatan Tarogong Kidul. Akhirnya, pemerintah memindahkan mereka ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada tahun 1982.
Pahlawan asal Korea tersebut tertulis dalam batu nisannya bernama Komarudin.
Dimakamkan di Garut
Petugas Taman Makam Pahlawan pada Dinas Sosial Garut Imam Sukiman, mengatakan bahwa makam pahlawan dari Korea tersebut selalu dikunjungi oleh keluarganya yang datang langsung dari Korea Selatan.
Bahkan batu nisannya itu diganti oleh pemerintah Korea Selatan yang diberikan dengan cara upacara militer.
Selain dikunjungi keluarganya, keberadaan makam pahlawan asing itu pernah didatangi oleh seorang profesor asal Korea Selatan untuk mengetahui kebenarannya bahwa yang dimakamkan di Garut adalah orang Korea.
Kini, kisah perjuangan asal Korea untuk bangsa Indonesia itu tetap dikenang. Jasadnya tetap terkubur di tanah Garut berjejer dengan makam pahlawan lainnya. Hal ini sebagai bukti kecintaannya untuk Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber