Senin, 26 FEBRUARI 2024 • 18:09 WIB

Sekelumit Paradoks "A Killer Paradox" di Netflix: Pembenaran Atas Pembunuhan, Tapi Bukan Kisah Vigilante

Author

Adegan di "A Killer Paradox" yang tayang di Netflix. (Netflix)

INDOZONE.ID - Seperti judulnya, ada paradoks dalam serial Korea "A Killer Paradox" yang tayang di Netflix awal Februari tahun 2024. Pasalnya, serial yang disutradarai Lee Chang-hee" dan diperankan Choi Woo-shik ini memainkan akal sehat penonton tentang pembunuhan terhadap orang-orang jahat.

Seperti yang diketahui, paradoks dalam KBBI berarti pernyataan yang seolah-olah bertentangan atau berlawanan dengan pendapat umum, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Dalam kasus ini adalah membunuh seseorang. Di atas kertas, pembunuhan adalah tindakan tercela dan wajib dihuku, namun di benak masyarakat ada orang-orang bejat yang layak dibunuh.

Hal itulah yang digambarkan dalam serial tersebut. Penonton diajak untuk memaknai tindakan tokoh yang diperankan Choi Woo-shik apakah perlu dilakukan--mata dibalas mata, hidung dibalas hidung--atau sebaliknya.

Lalu kita juga dibuat bertanya-tanya; bagaimana posisi seorang mahasiswa universitas biasa terlibat dalam pembunuhan para penjahat kejam? Apakah skenario ini mewakili sekadar serangkaian pembunuhan kebetulan, ataukah keadilan sedang dilakukan?

Baca Juga: Sukses Raih Peringkat Keempat di Netflix Global, Drama 'A Killer Paradox' Trending Di 11 Negara

Premis "A Killer Paradox"

Adegan di "A Killer Paradox" yang tayang di Netflix. (Netflix)

Berdasarkan webtoon hit dengan nama yang sama, seri thriller kriminal ini dimulai dengan Lee Tang secara tidak sengaja membunuh seorang pria yang menyerangnya, hanya untuk kemudian mengetahui bahwa pria yang sudah mati itu adalah seorang pembunuh berantai.

Satu pembunuhan membawa pada pembunuhan lainnya, dan dia menyadari bahwa dia memiliki indera yang memungkinkannya mendeteksi penjahat, serta menemukan tujuan baru dalam hidupnya dengan bantuan hacker Noh Bin (Kim Yo-han).

Sementara terjebak dalam perburuan kucing dan tikus tanpa henti dengan detektif cerdik Jang Nan-gam (Son Suk-ku), pembunuh pemula ini terus membunuh penjahat keji setelah penjahat keji hingga semuanya menjadi rumit dengan munculnya Song Chon (Lee Hee-joon), seorang mantan detektif yang sendiri yang ternyata seorang psikopat.

Bukan Tentang Vigilante, Tapi Tentang Kompromi

Adegan di "A Killer Paradox" yang tayang di Netflix. (Netflix)

Cerita ini menjelajahi pertanyaan apakah Tang sedang menyajikan keadilan atau menghindarinya, ketika dia menemukan bakat tersembunyinya untuk membalas para penjahat.

Baca Juga: Tak Cukup dengan Trilogi, Netflix Umumkan Kelanjutan Film Fear Street

Mari kita ajukan pertanyaan tentang bagaimana rasanya memiliki sosok seperti Lee Tang dalam kehidupan nyata. Dia adalah karakter yang terus-menerus mempertanyakan apakah membunuh pelaku kejahatan adalah bakat khususnya atau sekadar kebetulan hingga akhir.

Seri berdurasi delapan episode, yang dirilis di Netflix pada 9 Februari, segera naik ke posisi kedua di tangga streaming teratas platform untuk seri TV berbahasa non-Inggris.

Kendati diperkenalkan sosok otaku yang mengagumi aksi vigilante-main hakim sendiri atau pembasmi para penjahat dengan keji, namun unsur tersebut tidak betul-betul nyata. Justru kisahnya seperti sebuat caper story, tapi dari sudut pandang seorang pembunuh.

Hal ini juga diungkapkan oleh sang sutradara, yang mengatakan bahwa dia tidak ingin menggambarkan Lee Tang sebagai seorang vigilante.

"Saya tidak berniat membuat pahlawan gelap. Saya hanya berpikir itu bisa menawarkan kegembiraan thrill dengan aspek fiksi, semacam merasakan kepuasan secara tak langsung," katanya seperti yang dikutip South China Morning Post.

"Banyak orang mengatakan bahwa seri ini termasuk dalam genre pahlawan gelap, tetapi saya agak tidak setuju dengan itu," kata aktor tersebut.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Drakor Terbaru yang Tayang Februari 2024: 'Wedding Impossible' hingga 'A Killer Paradox'

"Saya merasa ini tentang proses kompromi Lee ... Lee merasa dipaksa ke ujung dan melangkah maju dalam keadaan merusak diri sendiri. Jadi, saya memberikan bobot pada bagaimana perasaan mahasiswa biasa setelah membunuh seseorang dan wajah apa yang akan dia tunjukkan."

Realistis?

Dalam pengamatan sepanjang 8 episode, karakter Lee hanya digambarkan tekadnya yang mudah terdiktraksi, bukan gambaran sosok vigilante pada umumnya yang memiliki motivasi kuat. Ia adalah seseorang yang mudah menyerah pada hidup. Emosinya realistis namun jauh dari kata dramatis.

Seri ini menampilkan nuansa terang dan gelap yang kontras - baik secara visual maupun dalam hal penceritaan - untuk menghidupkan webtoon yang tidak konvensional.

Baca Juga: Telisik Film 'Anatomy of a Fall': Film Nominasi Oscar 2024 Angkat Tema Tuduhan Pembunuhan Elusif Melalui Alibi

Menariknya, karakter dan pilihan yang kontradiktif bertabrakan dalam seri ini menggambarkan suasana yang ada di benak masyarakat di dunia nyata. 

Tentu banyak orang di dunia nyata, baik melihat secara langsung atau melalui media sosialnya dan bereaksi ketika melihat sosok penjahat bengis yang kejam di berita T, yang siap mengatakan, "matiin saja orang itu", "dia nggak pantas dipenjara", "harusnya dibalas", dan sebagainya.

"A Killer Paradox" masih bisa disaksikan di Netflix dengan jumlah 8 episode.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU