INDOZONE.ID - Penyanyi sekaligus penulis lagu Charlie Puth resmi ditunjuk sebagai chief music officer di platform kecerdasan buatan (AI) untuk musik Moises.
Platform yang dibuat oleh para musisi ini telah digunakan lebih dari 70 juta kreator di seluruh dunia untuk membantu proses produksi dan eksplorasi musik.
Moises memungkinkan pengguna memisahkan vokal dan instrumen dari sebuah lagu, mengidentifikasi akor, hingga bereksperimen dengan aransemen baru.
Platform tersebut dirancang sebagai alat kreatif bagi musisi, bukan sebagai AI yang menghasilkan lagu secara otomatis, sehingga tetap memberi kendali penuh kepada pencipta musik atas karya mereka.
Baca juga: Bawakan Lagu Charlie Puth, Ini Nyanyian Pertama FIFTY FIFTY Dengan Member Baru Dalam Cuplikan Live
Charlie Puth mengaku telah menggunakan teknologi Moises selama bertahun-tahun dalam proses kreatifnya.
Menurut dia, platform tersebut membuka berbagai kemungkinan yang sebelumnya memerlukan waktu lama atau peralatan studio yang mahal.
"Ini membuka kemungkinan yang dulunya membutuhkan waktu berjam-jam atau peralatan studio yang mahal," kata Charlie Puth dikutip dari laman Music News, Kamis (5/3/2026).
Ia menegaskan bahwa teknologi AI seharusnya hadir untuk mendukung musisi, bukan menggantikan peran manusia dalam berkarya.
Dalam posisi barunya, Puth akan membantu menentukan arah kreatif platform, berkolaborasi dalam pengembangan fitur baru yang berfokus pada kebutuhan artis, serta memastikan Moises tetap mencerminkan cara kerja musisi di lingkungan studio nyata.
Untuk menandai pengumuman tersebut, Charlie Puth bersama Moises juga meluncurkan kompetisi remix global yang berlangsung hingga 31 Maret.
Penggemar dan musisi dapat membuat remix atau cover dari lagu “Beat Yourself Up” yang terdapat dalam album terbarunya, Whatever’s Clever!, menggunakan alat yang tersedia di Moises.
Puth akan memilih langsung para pemenang yang berkesempatan memperoleh bagian dari total hadiah sebesar 100.000 dolar AS serta kesempatan bertemu langsung dengannya dalam konser di New York City pada 29 Mei.
Di sisi lain, perkembangan AI di industri musik masih memicu perdebatan.
Vokalis Thom Yorke dari Radiohead menyatakan bahwa teknologi kecerdasan buatan cenderung hanya “mencuri” karya artistik manusia.
Baca juga: Stray Kids Gandeng Charlie Puth di Single Berbahasa Inggris Terbaru Berjudul 'Lose My Breath'
Musisi berusia 57 tahun itu menilai AI saat ini hanya mampu menghasilkan variasi dari ekspresi artistik manusia tanpa memberikan pengakuan atau kompensasi kepada pencipta asli.
Ia juga menilai struktur ekonomi di balik penggunaan karya kreatif untuk melatih AI sebagai sesuatu yang bermasalah secara moral.
Yorke termasuk di antara lebih dari 10.500 penandatangan pernyataan terbuka yang memperingatkan perusahaan AI agar tidak menggunakan karya kreatif tanpa izin untuk melatih sistem generatif.
Pernyataan tersebut juga ditandatangani oleh sejumlah musisi ternama, termasuk Björn Ulvaeus dari ABBA serta Robert Smith dari The Cure, yang menilai praktik tersebut sebagai ancaman serius terhadap mata pencaharian para seniman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Music News