INDOZONE.ID - Kementerian Kebudayaan melakukan audiensi bersama Duta Besar Republik Azerbaijan untuk Indonesia guna mendiskusikan penguatan serta perluasan kemitraan strategis.
Fokus utama kerja sama tersebut mencakup sektor sastra, pelestarian warisan budaya, hingga penyelenggaraan pertukaran kegiatan budaya antar kedua negara.
"Indonesia dan Azerbaijan memiliki banyak kesamaan nilai budaya, termasuk dalam tradisi sosial dan sejarah. Ke depan, kerja sama kebudayaan ini perlu dieksplorasi lebih jauh, terutama di bidang sastra dan warisan budaya," kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Selasa.
Baca juga: Kisah Pujangga Legendaris Chairil Anwar Bakal Jadi Film Layar Lebar, Anak Sastra Pasti Gak Sabar!
Saat menjamu Duta Besar Azerbaijan di Jakarta pada Senin (12/1), Fadli menegaskan bahwa Indonesia menempatkan Azerbaijan sebagai mitra strategis dengan ikatan budaya dan sejarah yang kuat.
Menurutnya, kesamaan nilai ini merupakan fondasi krusial dalam membangun kolaborasi kebudayaan yang lebih terorganisir serta memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Ia menyoroti peluang kolaborasi literasi melalui kemitraan dengan Museum of Literature di Azerbaijan. Ia menilai, terdapat paralelisme naratif yang menarik antara epos Layla Majnun dari Azerbaijan dengan kisah Panji asal Indonesia.
Kesamaan ini diyakini mampu menjadi katalis bagi dialog sastra yang lebih mendalam serta pertukaran wawasan kebudayaan antar-kedua bangsa.
Fadli pun mengusulkan serta permohonan dukungan Azerbaijan terkait perluasan nominasi tradisi Iftar sebagai Warisan Budaya Tak benda (Intangible Cultural Heritage/ICH) di UNESCO.
Mengingat tradisi Iftar telah tercatat sebagai warisan budaya takbenda sejak 2023 atas usulan Azerbaijan, Iran, Türkiye, dan Uzbekistan, Fadli berharap Azerbaijan bersedia mendukung Indonesia dalam memperluas nominasi bersama tersebut.
Selain membuka peluang bagi pengajuan kolaboratif lainnya, beliau juga mendesak percepatan penyelesaian nota kesepahaman (MoU) sebagai payung hukum kerja sama kebudayaan kedua negara.
"MoU kebudayaan ini penting sebagai dasar hukum untuk memperluas kerja sama, termasuk penyelenggaraan kegiatan kebudayaan secara resiprokal, baik di Indonesia maupun di Azerbaijan," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Indonesia kini tengah menempuh langkah-langkah untuk mengaktifkan kembali peranannya di ISESCO.
Indonesia menilai organisasi tersebut memiliki posisi strategis sebagai platform utama dalam mempererat sinergi kebudayaan di antara negara-negara Muslim di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA