Rabu, 24 SEPTEMBER 2025 • 10:43 WIB

Gaza Biennale di New York: Ekspresi Seniman Palestina sebagai Lentera Harapan dan Perlawanan

Author

Gaza Biennale 

INDOZONE.ID - Para seniman di Gaza terus berkarya meski menghadapi kondisi ekstrem dan tak manusiawi, sebuah kenyataan yang menjadi inti pesan dari pameran Gaza Biennale.

Pameran Gaza Biennale berusaha memamerkan karya lebih dari 25 seniman Palestina secara internasional, termasuk di New York, melalui kerja sama dengan organisasi seni abolisionis, Recess.

Gaza Biennale lahir dari keterbatasan untuk menggelar pameran seni di wilayah yang diblokade dan mengalami genosida.

Dengan situasi yang membuat pengangkutan karya fisik ke luar Gaza hampir mustahil, konsep biennale diubah menjadi format pengungsian. 

Baca juga: Kisah di Balik Patung Bear With Me Bristol: Ketika Beruang Kecil Menghibur Luka Besar

Dengan begitu, dunia dapat menyaksikan karya dari satu lokasi yang terperangkap dalam krisis.

Direktur Recess, Lindsay Harris, menyebut bahwa, berbeda dengan biennale biasanya yang mengumpulkan semua orang di satu tempat, di sini dunia justru berfokus ke Gaza.

Karya-karya Gaza Biennale sudah dipamerkan di berbagai kota dunia seperti Edinburgh, Valencia, London, dan Padua, dengan rencana ekspansi ke Istanbul, Athena, Sarajevo, Berlin, dan Toronto.

Namun, cara menampilkan karya pun mengalami tantangan besar. 

Sesuai pernyataan penyelenggara yang menamakan diri Museum Terlarang, karya-karya ini harus “diciptakan kembali” agar tetap hidup dan hadir meskipun dalam kondisi terlantar—bukan sekadar direplikasi.

Baca juga: Persiapan Tim Juara POTEK Dance Fest Berangkat ke Korsel, Belajar dari Dancer Pro DEUKIE

Kebanyakan seniman yang berpartisipasi telah mengalami kehilangan besar. 

Sekitar tiga perempat dari mereka kehilangan seluruh hasil karya mereka akibat serangan perang dan harus mulai ulang dari nol.

Meski begitu, mereka menemukan kekuatan untuk terus berkarya, bahkan dalam kondisi kehancuran. Seni menjadi medium bertahan yang tak tergantikan. 

Beberapa seniman menggambarkan seni sebagai sarana untuk menyampaikan pengalaman hidup sekaligus tempat pengobatan psikologis.

Baca juga: Warna, Cinta, dan Kehidupan: Makna Mendalam Bunga Matahari Van Gogh

Murad Al-Assar, melalui penerjemah, menyatakan bahwa melukis membantunya melepas rasa sakit dan tekanan, mengubah ketakutan menjadi karya yang menceritakan kisah rakyatnya.

Al-Assar juga turut melibatkan anak-anak dalam proses berkarya, sehingga bisa melihat dunia dari mata yang lebih jernih dan polos, yang menyuntikkan energi baru dalam seni yang ia buat.

Tasneem Shatat, seniman lain, menganggap seni sebagai terapi psikologis yang memungkinkan dirinya bertahan menghadapi kenyataan keras di Gaza. 

Baginya, seni menjadi “arsip hidup” yang memuat cerita warga Palestina yang terlantar, mengabadikan kenangan dan realitas mereka untuk generasi mendatang.

Baca juga: IDW 2025 Hadirkan Karya Seni Berkelanjutan dan Identitas Kreatif Indonesia

Dalam konteks teknis, tim Gaza Biennale dan Recess mengembangkan berbagai cara untuk menampilkan karya dengan cara yang berbeda dan kreatif. 

Misalnya, kolase media campuran karya Maysa Yousef diubah menjadi cetakan agar tekstur karya tetap terasa autentik.

Proses “menciptakan kembali rumah” di berbagai tempat menjadi metafora yang kuat dalam pameran Gaza Biennale.

Inspirasi awal Gaza Biennale datang dari seorang perempuan muda Palestina yang mendekati Museum Terlarang dengan keinginan kuat untuk berkarya seni. 

Baca juga: Ketika Anak Main Gadget Berhenti Sebentar Beralih Membuat Wayang Botol

Gestur sederhana ini memunculkan residensi seni dan membuka ruang dialog untuk menampilkan seni Gaza ke dunia.

Museum Terlarang mengakui, mereka awalnya terkejut dengan keinginan perempuan muda itu, tetapi hal tersebut menjadi titik awal sebuah gerakan vital di tengah blokade dan genosida.

Tujuan utama Gaza Biennale adalah mengangkat suara seniman Palestina yang selama ini terpinggirkan akibat kondisi yang jauh dari kata kemanusiaan.

Dengan menampilkan karya seniman Palestina di panggung internasional, Biennale memberi kekuatan dan pengakuan kepada para seniman yang karyanya mungkin hilang kapan saja.

Baca juga: Broadway: Magi Pertunjukan yang Menakjubkan

Pameran Gaza Biennale yang sedang berlangsung di Recess, Brooklyn, hingga 20 Desember, menjadi bukti kuat bahwa seni tetap hidup dan berperan sebagai media perlawanan dan ekspresi dalam kondisi paling sulit sekalipun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Guardian

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU