Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 15 APRIL 2025 • 16:10 WIB

Review 'Pengepungan di Bukit Duri': Apakah Bobroknya Sistem Pendidikan Adalah Akar Budaya Kekerasan dan Kebencian?

Review Pengepungan di Bukit Duri : Apakah Bobroknya Sistem Pendidikan Adalah Akar Budaya Kekerasan dan Kebencian?Pengepungan di Bukit Duri. (IMDB)

INDOZONE.ID - Setelah pertama kali diumumkan sebuah film terbaru dari sutradara Joko Anwar 'Pengepungan di Bukit Duri', dengan genre yang berbeda dari film sebelumnya, beberapa pecinta film Tanah Air antusias dan menunggu dengan sabar akan tayangnya film tersebut.

Sehingga akhirnya, film tersebut akan dirilis 17 April 2025 mendatang dna mengobati hati para fans. Apalagi filmnya berkisah tentang kekerasan anak sekolah dengan nuansa distopia berlatar tahun 2027 tentang kerusuhan antar etnis dan ras. Tentunya sejarah bisa terulang bila tak ada yang berbenah.

Film ini dibintangi Morgan Oey, Omara Esteghlal, Hana Pitrashata Malasan, Endy Arfian, Fatih Unru, Satine Zaneta, dan beberapa nama lainnya, Joko Anwar dan Tia Hasibuan dari Come And See juga bekerjasama dengan Amazon MGM Studios, sebuah perusahaan raksasa Hollywood yang menggarap franchise James Bond, Rocky, dan masih banyak film lainnya.

Lalu seperti apa ceritanya? Sebagus apa film 'Pengepungan di Bukit Duri' ini dibandingkan dengan film sebelumnya? Simak di sini.

Baca Juga: Film Pengepungan di Bukit Duri Angkat Kisah Kelam yang Jadi Keresahan di Masa Depan

Jalan Cerita 'Pengepungan di Bukit Duri'

Review Pengepungan di Bukit Duri : Apakah Bobroknya Sistem Pendidikan Adalah Akar Budaya Kekerasan dan Kebencian?Pengepungan di Bukit Duri. (IMDB)

Film ini secara garis besar timelinenya berlatar tahun 2027, di masa dunia yang tercipta adalah dunia penuh kebencian antar etnis di mengikuti kisah Edwin (Morgan Oey), keturunan China korban kerusuhan di tahun 2009 dimana orang tuanya tewas dan tokonya dibakar serta kakak perempuannya diperkosa.

Bertahun-tahun kemudian, Edwin berjanji untuk menemukan anak kakaknya yang hilang yang diduga berada di salah satu SMA di wilayah Jakarta Timur. Satu-satunya sekolah yang belum diperiksa adalah SMA Duri.

Pencarian Edwin membawanya menjadi guru di sekolah untuk anak-anak bermasalah tersebut. Di sana, Edwin harus berhadapan dengan murid-murid paling beringas sambil mencari keponakannya. Salah satu anak bandel di sekolah tersebut adalah Jefri dan para gangnya yang tidak menyukai Edwin karena menjadi anak beringas.

Jefri pun berniat menuntut balas tepat di hari kerusuhan pecah di seluruh kota dan mereka terjebak di sekolah. Edwin dan beberapa guru dan murid lainnya harus bertahan dan melawan anak-anak brutal yang kini mengincar nyawa mereka.

Review 'Pengepungan di Bukit Duri'

Review Pengepungan di Bukit Duri : Apakah Bobroknya Sistem Pendidikan Adalah Akar Budaya Kekerasan dan Kebencian?Pengepungan di Bukit Duri

Seperti yang disebutkan di atas, film ini adalah film ke-11 dari Joko Anwar yang memiliki nuansa berbeda. dimulai dari world builidng yang dibuat, para sineas tersebut membuat latar kota besar yang semrawut dengan bangunan yang oenuh grafitti dengan berbagai cemohan terhadap etnis, dan orang berdemo.

Baca Juga: Cara Joko Anwar Memasukkan Isu Sosial di Film 'Pengepungan di Bukit Duri'

Dengan latar dan latar yang diperhatikan sangat detail dapat membantu para penonton memahami karakter-karakter seperti apa yang tumbuh di lngkungan seperti itu. Joko Anwar dan tim desain artistik membuat sebuah dunia yang ciamik ditambah dengan skoring musik yang kental mengambarkan sisi distopia tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Review 'Pengepungan di Bukit Duri': Apakah Bobroknya Sistem Pendidikan Adalah Akar Budaya Kekerasan dan Kebencian?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!