Review 'Pengepungan di Bukit Duri': Apakah Bobroknya Sistem Pendidikan Adalah Akar Budaya Kekerasan dan Kebencian?
INDOZONE.ID - Setelah pertama kali diumumkan sebuah film terbaru dari sutradara Joko Anwar 'Pengepungan di Bukit Duri', dengan genre yang berbeda dari film sebelumnya, beberapa pecinta film Tanah Air antusias dan menunggu dengan sabar akan tayangnya film tersebut.
Sehingga akhirnya, film tersebut akan dirilis 17 April 2025 mendatang dna mengobati hati para fans. Apalagi filmnya berkisah tentang kekerasan anak sekolah dengan nuansa distopia berlatar tahun 2027 tentang kerusuhan antar etnis dan ras. Tentunya sejarah bisa terulang bila tak ada yang berbenah.
Film ini dibintangi Morgan Oey, Omara Esteghlal, Hana Pitrashata Malasan, Endy Arfian, Fatih Unru, Satine Zaneta, dan beberapa nama lainnya, Joko Anwar dan Tia Hasibuan dari Come And See juga bekerjasama dengan Amazon MGM Studios, sebuah perusahaan raksasa Hollywood yang menggarap franchise James Bond, Rocky, dan masih banyak film lainnya.
Lalu seperti apa ceritanya? Sebagus apa film 'Pengepungan di Bukit Duri' ini dibandingkan dengan film sebelumnya? Simak di sini.
Baca Juga: Film Pengepungan di Bukit Duri Angkat Kisah Kelam yang Jadi Keresahan di Masa Depan
Jalan Cerita 'Pengepungan di Bukit Duri'
Film ini secara garis besar timelinenya berlatar tahun 2027, di masa dunia yang tercipta adalah dunia penuh kebencian antar etnis di mengikuti kisah Edwin (Morgan Oey), keturunan China korban kerusuhan di tahun 2009 dimana orang tuanya tewas dan tokonya dibakar serta kakak perempuannya diperkosa.
Bertahun-tahun kemudian, Edwin berjanji untuk menemukan anak kakaknya yang hilang yang diduga berada di salah satu SMA di wilayah Jakarta Timur. Satu-satunya sekolah yang belum diperiksa adalah SMA Duri.
Pencarian Edwin membawanya menjadi guru di sekolah untuk anak-anak bermasalah tersebut. Di sana, Edwin harus berhadapan dengan murid-murid paling beringas sambil mencari keponakannya. Salah satu anak bandel di sekolah tersebut adalah Jefri dan para gangnya yang tidak menyukai Edwin karena menjadi anak beringas.
Jefri pun berniat menuntut balas tepat di hari kerusuhan pecah di seluruh kota dan mereka terjebak di sekolah. Edwin dan beberapa guru dan murid lainnya harus bertahan dan melawan anak-anak brutal yang kini mengincar nyawa mereka.
Review 'Pengepungan di Bukit Duri'
Seperti yang disebutkan di atas, film ini adalah film ke-11 dari Joko Anwar yang memiliki nuansa berbeda. dimulai dari world builidng yang dibuat, para sineas tersebut membuat latar kota besar yang semrawut dengan bangunan yang oenuh grafitti dengan berbagai cemohan terhadap etnis, dan orang berdemo.
Baca Juga: Cara Joko Anwar Memasukkan Isu Sosial di Film 'Pengepungan di Bukit Duri'
Dengan latar dan latar yang diperhatikan sangat detail dapat membantu para penonton memahami karakter-karakter seperti apa yang tumbuh di lngkungan seperti itu. Joko Anwar dan tim desain artistik membuat sebuah dunia yang ciamik ditambah dengan skoring musik yang kental mengambarkan sisi distopia tersebut.
Untuk akting dan karakter-karakter tak perlu diragukan. Edwin yang mewakili orang yang menghadapi tragedi di masa lalu. Belum lagi karakter Jefri yang terlahir dari kebencian dan didikan yang keras dari orang tuanya dan membuatnya menjadi pembangkang.
Isu yang Patut Didiskusikan
Salah satu yang menarik di 'Pengepungan di Bukit Duri' yang diharapkan para sineas untuk jadi perdiskusian adalah rentetan isu yang dibahas. Semua penonton yang lahir dan mengalami kerusuhan 98 dan yang mereka yang membaca sejarah, pasti akan tergerak saat film dimulai di awal cerita.
Meski menceritakan di tahun yang berbeda dengan sejarah aslinya, namun adegan tragis di film tersebut menggambarkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Tentunya sangat triggering bagi beberapa orang bagaimana kekerasaan secara verbal dan fisik itu digambarkan. Namun luka memang harus disembuhkan, perlu benar-benar didiskusikan agar tidak terulang lagi seperti yang digambarkan d film tersebut, dimana kejadian kerusuhan pecah di tahun 2009 dan 2027.
Isu lain yang paling juga disorot adalah kenakalan remaja produk sistem pendidikan yang bobrok. Bagaimana para siswa yang digabungkan di sekolah anak nakal buangan dan para guru yang menyerah karena tak sanggup untuk mengubahnya.
Ini seperrti melihat mengapa para remaja sekolah dari zama dahulu hingga sekarang masih terlibat tawuran. Bagaimana mereka tertarik untuk melakukan kekerasan, dimana selama ini para pemangku bahasan hanya saling menyalahkan antara orang tua dan sistem pendidik yang dianggap lembaga yang berperan penting atas moral anak bangsa.
Semua akar masalah yang kompleks ini digarap dengan detail agar menjadi perbincangan. Berharap para petiiggi bisa membuat kebijakan baru karena tergerak setelah nonton film ini.
Baca Juga: 4 Film Joko Anwar Terbaru Bersama Come and See yang Rilis 2025-2026: Ada Legenda Malin Kundang
Tegang dan menegangkan
Sebagai film yang mengisahkan kerusuhan dan kebrutalan anak-anak sekolah, Joko Anwar dan Tia Hasibuan menggarapnya dengan nuansa thriller aksi yang menegangkan. Sehingga suasana tegang itu diperlihatkan terus menerus dimulai awal cerita hingga menjelang akhir.
Bedanya dengan film laga menegangkan dan berdarah-darah seperti The Raid, film ini memberikan jeda antara beberapa adegan menegangkan dengan hubungan antara karakter satu dan lainnya.
Adrenalin penonton meulai meninggi tanpa henti ketikan adegan di sekolah saat Jefri dkk mengunci sekolah dan bersiap melawan Edwin. Semenjak saat itu, adegan menegangkan tanpa henti. Bukan hanya dari adegan perkelahian saja, tapi juga dari ekspresi wajah dari protagonis dan para gang anak sekolah.
Film 'Pengepungan di Bukit Duri' ini seolah menjadi jawaban bila Joko Anwar pun bisa membuat genre action, bukan satu genre itu-itu saja.
Baca Juga: Joko Anwar Sindir Promosi Film Dosen Ghaib Pakai Tragedi Mahasiswa Bunuh Diri; Tak Beretika!
Yang paling beda juga, di film ini tak ada kode-kode, petunjuk, atau easter eggs lebih yang berkaitan dengan cerita film tersebut, berbeda dengan filmfilm sebelumnya seperti 'Pengabdi Setan', 'Gundala', atau Nighmares & Daydreams'.
Penonton 'Pengepungan di Bukit Duri' lebih mudah mengikuti ceritanya karena tidak dibuat teka-teki untuk penonton agar mencari tahu maksud dari sebuah adegan.
8/10
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan