Legenda Kelam Malin Kundang (IMDB)
INDOZONE.ID - Legenda Kelam Malin Kundang, sebuah film dari Come and See Pictures, tengah tayang di bioskop saat ini. Film ini mengangkat tema legenda Malin Kundang dengan gaya thriller psikologi.
Dikemas oleh duet sutradara pendatang baru Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, serta ditulis oleh Aline Djayakusuma dan Joko Anwar, film ini menghadirkan jajaran pemain: Rio Dewanto, Faradina Mufti, dan Vonny Anggraini.
Di bawah produksi Joko Anwar dan Tia Hasibuan, premis klasik Malin Kundang dikemas ulang menjadi drama misteri psikologis yang lebih fresh dan relevan.
Secara sinopsis, film ini mengikuti tokoh Alif yang diperankan oleh Rio Dewanto, seorang micro painter yang baru pulih dari kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatannya.
Legenda Kelam Malin Kundang, film Indonesia terbaru November 2025 garapan Joko Anwar (IMDb)
Baca juga: Rio Dewanto Ungkap Makna 'Durhaka' di Balik Film Legenda Kelam Malin Kundang
Kehidupannya mendadak goyang ketika seorang perempuan muncul dan mengaku sebagai ibunya, sosok yang sama sekali tidak Alif kenal, walaupun ia sudah meninggalkannya 18 tahun lalu.
Dari sudut-sudut Jakarta yang sesak hingga jejak kenangan yang tersembunyi dalam setiap karyanya, Alif terseret kembali pada masa lalu yang gelap dan menyakitkan.
Salah satu hal yang menonjol adalah bagaimana film ini memaknai ulang simbol batu dari cerita legenda. Batu itu tidak hanya berfungsi sebagai kanvas micro painting Alif, tetapi juga menjadi gambaran psikologis dirinya: tegar, sunyi, menyimpan ingatan, namun tak sanggup bersuara.
Pasca kecelakaan, Alif hidup layaknya sebuah batu, masih bisa merasakan perih, tetapi tak mampu mengingat siapa dirinya.
Baca juga: Film Legenda Kelam Malin Kundang: Bawa Trauma Lintas Generasi ke Layar Lebar
Di dalam cerita, micro painter dipilih bukan karena sensasi atau keanehannya, melainkan karena simbolismenya. Seni yang bergelut dengan detail kecil dan nyaris tak terlihat ini menggambarkan hidup Alif yang sarat rahasia, tersembunyi di balik tampilan suksesnya.
Walaupun tidak memposisikan diri sebagai film horor, film ini sukses membangun ketegangan. Musik yang gelisah, pengaturan ritme yang menekan, dan visual penuh simbol membuat penonton terus merasa dalam kewaspadaan.
Penyutradaraan Kevin dan Rafki juga menyuguhkan kritik sosial secara halus lewat perbandingan visual antara ruang urban dan rural, memperlihatkan ketimpangan kelas yang nyata dalam banyak kisah keluarga Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Penulis