Sutradara James Cameron. (REUTERS/Lucy Nicholson)
INDOZONE.ID - James Cameron kembali menunjukkan totalitasnya dalam menggarap seri Avatar, terutama dalam film Avatar: Fire and Ash. Tidak hanya mengandalkan teknologi visual, sutradara dari film Titanic ini, bahkan mempelajari neuroscience atau ilmu saraf untuk memastikan pengalaman menonton film 3D terasa nyaman bagi penonton.
Dalam wawancara dengan Discussing Film (19/12/2025), James mengungkapkan bahwa masalah utama dalam menonton film 3D bukan berasal dari mata, melainkan dari cara otak memproses gambar stereoskopik. Pemahaman inilah yang mendorongnya mempelajari neuroscience sebagai bagian dari proses kreatif.
Baca juga: Penjelasan Ending The Great Flood, Makna Film Bencana Terbaru Netflix di Akhir 2025
“I actually like getting a bit of neuroscience into how I author the film so that I am as pleasing to the audience as we can be.”
James menjelaskan bahwa otak manusia memiliki neuron khusus yang bertugas memproses parallax atau persepsi kedalaman. Ketika visual 3D tidak stabil, neuron tersebut kesulitan bekerja sehingga memicu ketegangan pada otak, bukan pada mata.
Berdasarkan hal itu, James menerapkan penggunaan high frame rate untuk menciptakan pergerakan visual yang lebih halus.
Baca juga: Review The Great Flood, Film Bencana Netflix yang Ambisius dan Bikin Deg-degan
Pendekatan ini membuat otak lebih mudah memproses kedalaman gambar, sehingga pengalaman 3D terasa lebih natural dan nyaman saat disaksikan.
“When people say they get eyestrain watching 3D, it’s not eyestrain, it’s brain strain,” ujar Cameron.
Pendekatan berbasis ilmu saraf ini menegaskan bahwa pengolahan visual Avatar tidak hanya bertujuan memanjakan mata, tetapi juga menyesuaikan diri dengan cara kerja otak manusia. Bagi James, sensasi menonton bisa tercapai ketika teknologi, seni, dan sains berjalan dengan beriringan.
Dengan riset hingga ke ranah neuroscience, James Cameron kembali memperlihatkan bahwa Avatar bukan sekadar tontonan visual, melainkan hasil dedikasi ekstrem dalam memahami pengalaman penonton secara menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: X/@DiscussingFilm