Proses syuting film dokumenter 'Dissidence' (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)
INDOZONE.ID - Membuat film dokumenter sering kali berarti mengikuti kenyataan apa adanya. Berbeda dengan film fiksi yang dapat dikendalikan melalui naskah dan jadwal produksi yang terencana, dokumenter menuntut pembuat film untuk berhadapan langsung dengan ketidakpastian. Tantangan itulah yang dialami Rama Dio Syahputra saat menggarap Dissidence, film dokumenter yang mengikuti perjalanan atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi dan Ravianto.
Bagi Rama, tantangan terbesar dalam proses produksi bukanlah persoalan teknis kamera atau penyuntingan semata. Justru tantangan paling berat datang dari kenyataan bahwa cerita yang ingin ia rekam belum tentu memiliki akhir yang bisa dipastikan.
"Film ini harus selesai, tapi saya tidak tahu apakah perjalanan mereka akan benar-benar sampai ke titik yang saya bayangkan," ungkap Rama saat menceritakan proses panjang produksi film tersebut kepada Indozone.
Sejak awal, Rama memiliki visi yang sangat jelas tentang bagaimana cerita Dissidence harus berakhir. Film ini mengikuti perjuangan Raviandi dan Ravianto yang berusaha kembali ke Eropa untuk menyelesaikan tantangan panjat tebing dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi.
Namun ada satu masalah besar. Keberangkatan keduanya ke Eropa tidak didukung oleh pendanaan besar atau bantuan pemerintah. Mereka berangkat dengan dukungan komunitas panjat tebing yang percaya pada kemampuan mereka dan membantu mengumpulkan biaya perjalanan.
Situasi tersebut membuat Rama berada dalam posisi yang tidak biasa sebagai seorang sutradara. Ia sudah mulai membangun narasi film, menyusun alur cerita, dan menghabiskan waktu untuk proses produksi. Namun pada saat yang sama, ia belum mengetahui apakah target utama yang menjadi inti cerita akan benar-benar tercapai.
Menurutnya, film tersebut tidak akan memiliki dampak yang sama jika hanya salah satu dari Raviandi atau Ravianto yang berhasil menyelesaikan jalur panjat yang menjadi fokus cerita. Karena itu, ada taruhan besar yang terus menghantui proses produksi selama bertahun-tahun.
"Kalau mereka tidak kembali ke Eropa, filmnya tidak selesai. Saya sudah mengedit panjang-panjang, sudah punya visi bagaimana cerita ini berakhir, tapi tetap ada pertanyaan besar: apakah film ini benar-benar bisa selesai?" ujarnya.
Baca juga: Pengertian Film Dokumenter: Berikut Jenis dan Contohnya
Kesulitan lain yang dihadapi Rama adalah terbatasnya sumber daya produksi. Ia mengaku terlibat langsung hampir di setiap tahap pembuatan film, mulai dari pengembangan ide hingga distribusi.
Proses tersebut mencakup penulisan naskah dokumenter, mencari pendanaan, melakukan pitching ke berbagai pihak, pengambilan gambar, penyusunan jadwal, komunikasi dengan narasumber, penyuntingan, color grading, desain suara, hingga urusan transportasi.
Bahkan pendanaan awal film sebagian besar berasal dari kantong pribadinya. Sebagai pembuat film independen, Rama harus berjuang meyakinkan berbagai pihak untuk mendukung proyek yang pada saat itu belum memiliki jaminan keberhasilan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara