Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 19 JUNI 2026 • 16:11 WIB

Di Balik 'Dissidence': 30 Menit Merenung Bersama Atlet Kembar Panjat Tebing yang Serba Terbatas

Di Balik Dissidence : 30 Menit Merenung Bersama Atlet Kembar Panjat Tebing yang Serba TerbatasRavianto, salah satu atlet kembar panjat tebing dalam proses pembuatan dokumenter 'Dissidence' (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

INDOZONE.ID - Dua tantangan terbesar sebagai orang awam saat menyaksikan film dokumenter "Dissidence"; pertama tentang minimnya pengetahuan tentang olah raga panjat tebing, sedangkan yang kedua, minimnya jam terbang kami menonton film dokumenter olah raga outdoor. 

Hal itulah yang membuat tulisan artikel ini murni berdasarkan pengamatan dasar mengikuti alur yang dibuat Rama Dio Syahputra yang menggarap film dokumenter tentang sepak terjang atlet kembar panjat tebing Raviandi dan Ravianto yang mengalami jatuh bangun dalam menoreh prestasi di disiplin yang mereka kuasai dalam segala bentuk keterbatasan.

Sama dengan sang atlet yang serba terbatas, sang pembuat film juga berjuang solo dengan keterbatasannya dalam menggarap film ini. Dari konsep, pengambilan gambar, editing, dan segala tetek bengeknya disusun seorang diri. 

Baca juga: Pesan dan Harapan Tersirat di 'Dissidence', Perjuangan Atlet Kembar Panjat Tebing: Bukan Sekadar Soal Prestasi

Alhasil, jadilah film ini diboyong ke beberapa festival internasional, termasuk festivan Banff Mountain film Festival di Kanada sebelum akhirnya mendarat di Indonesia.

Adegan di buka dengam coretan Dio tentang perjalanan hidup dan kisah pertemuannya dengan sang atlet yang membuka matanya untuk selalu bersyukur. Lalu penampakan jalur tersulit di Prancis yang coba dipanjat sang kembar yang ternyata terlampau sulit. 

Adegan pembukaan menjadi penggambaran bagaimana sebuah jalur mencapai impian tak semudah itu dinaikkan. 

Di Balik Dissidence : 30 Menit Merenung Bersama Atlet Kembar Panjat Tebing yang Serba TerbatasFilm dokumenter "Dissidence: Two Shadow of the Wall" resmi tayang di Youtube Petzl Sport (Youtube/Petzl Sport)

Lalu cerita mundur ke belakang, tentang sosok sang kembar di ibukota Jakarta, tempat kelahiran mereka dan bagaimana mereka menjadi dua sosok atlet yang bertarung dengan modal mandiri.

Sebenarnya, apa yang sudah disajkan Dio di 'Dissidence' sudah memenuhi segala unsur film dokumenter. Dari pengambilan kamera dan sinematografi, khususnya bagian alam memang sudah membawa pesan apa yang dihadirkan dalam film tersebut. Salah satunya bagaimana kamera menangkap sosok atlet yang mendaki jalur terbalik dari bagian jalur yang gelap minim cahaya, menuju bagian yang lebih terang, seolah mengambil filosofi yang dianut film ini tentang bangkitnya mereka yang punya impian.

Baca juga: Mengenal Banff, Festival Film Dokumenter Outdoor Dunia: “Dissidence” dari Indonesia Sempat Diputar


Sayangnya dari segi emosi cerita, beberapa bagian belum cukup membuat hati kami sebagai penonton tergugah. Wawancara dan cerita dengan si kembar belum cukup untuk mengantar hal itu.

Minimnya emosi saat mereka bercerita, kecuali di bagian akhir ketika Raviandi menunjukkan emosi saat ia bingung kalau ia dipisahkan dengan kembarannya dalam olah raga tersebut.

Tapi itu bisa jadi menjadi pesan yang sangat menggugah buat para atlet yang ada di luar negeri yang hadir dengan fasilitas lengkap. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Di Balik 'Dissidence': 30 Menit Merenung Bersama Atlet Kembar Panjat Tebing yang Serba Terbatas

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!