3 Tantangan Besar Hanung Bramantyo Saat Mengadaptasi 'Children of Heaven' ke Indonesia Era 1980-an
INDOZONE.ID - Mengadaptasi film legendaris Iran Children of Heaven yang dirilis 1997 silam ke dalam konteks Indonesia bukanlah perkara mudah. Sutradara Hanung Bramantyo menghadapi berbagai tantangan kompleks, mulai dari perbedaan budaya, pengaturan produksi dengan aktor anak-anak, hingga tuntutan menghadirkan detail era 1980-an secara autentik.
Hal ini ia ungkap saat menggelar Media junket bersama wartawan di MD Place, Kuningan, Jakarta Selatan pada Senn (13/4/2026) kemarin. Setidaknya ada tiga tantangan yang ia hadapi ketika menulis skenario film adaptasi salah satu nominasi Academy Awards atau Oscar di kategori Best Foreign Movie tersebut.
1. Adaptasi Budaya dan Representasi Jilbab di Iran dan Era Orde Baru
Salah satu tantangan paling krusial adalah menerjemahkan elemen budaya dari film asli Iran ke dalam konteks Indonesia tahun 1980-an. Dalam versi Iran, penggunaan jilbab sangat ketat—bahkan perempuan dan anak-anak diwajibkan mengenakannya, termasuk di dalam rumah.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia pada masa Orde Baru, di mana jilbab sempat dibatasi penggunaannya di ruang publik. Hal ini menimbulkan dilema dalam merepresentasikan karakter Zahra yang identik dengan jilbab.
Baca juga: Children of Heaven Rilis Poster dan Trailer Resmi, Intip Daftar Pemainnya!
Sampai akhirnya ia riset mendalam dan menemukan ada satu masa beberapa sekolah Muhammadiyah sudah menerapkan penggunaan hijab di beberapa sekolahan di era 1985 atau 1986.
“Nah, momen itu yang kemudian kita adaptasi, kita sesuaikan. Jadi nanti kalau teman-teman melihat, ada yang pakai jilbab, ada yang nggak pakai jilbab, ada yang pakai jilbab. Kalau diketahui tahun 1980-an, orang baru sangat merepresentasi,” kata Hanung saat menjawab pertanyaan Indozone.
Pendekatan ini menjadi cara kreatif untuk menjaga esensi cerita sekaligus tetap akurat secara historis.
2. Beradaptasi dengan Aktor Anak
Tantangan kedua berkaitan dengan penggunaan aktor anak-anak sebagai pemeran utama. Hanung menegaskan bahwa proses syuting harus menjadi bagian dari pembelajaran, bukan eksploitasi kerja anak.
Baca juga: Sinopsis Film 'Rahasia Rasa' karya Hanung Bramantyo, Selaraskan Kuliner dan Sejarah
“Jadi syuting itu harus menjadi bagian dari pembelajaran mereka. Tidak boleh syuting itu menjadi ajang mereka untuk cari duit. Itu kan nggak boleh.”
Karena itu, jadwal produksi dibuat sangat disiplin—tidak terlalu malam, tidak melelahkan, dan tetap memperhatikan kebutuhan istirahat anak. Bahkan jika ada adegan malam, maka siang hari harus dikosongkan agar kondisi mereka tetap terjaga.
3. Rekonstruksi Era 1980-an, Termasuk Adegan Maraton
Tantangan terakhir adalah menghadirkan suasana Indonesia tahun 1980-an secara autentik, terutama dalam adegan besar seperti lomba lari.
Hanung mengungkapkan kompleksitasnya:
“Bagaimana kita harus menghadirkan maraton tahun 1980-an, gimana kita harus ngeblok jalan, nggak boleh ada orang lewat, mobil lewat, dan segala macam. Karena kalau sampai ada mobil lewat, lawan tahunnya, bocornya.”
Produksi harus memastikan tidak ada elemen modern yang terlihat, termasuk kendaraan masa kini. Jalan harus ditutup total dan disesuaikan dengan detail kendaraan era tersebut, yang jelas berbeda dengan kondisi sekarang.
Sinopsis 'Children of Heaven
Berawal dari hilangnya sepatu Zahra, Ali terpaksa berbagi sepatu miliknya agar adiknya bisa pergi ke sekolah. Situasi ini menuntut mereka untuk bergantian memakai sepatu dalam kondisi ekonomi terbatas.
Baca juga: Tantangan Adaptasi Children of Heaven di Indonesia: Dari Restu Majid Majidi hingga Isu Budaya
Untuk meringankan beban orang tuanya dan membantu Zahra, Ali bertekad mengikuti lomba lari, berjuang keras untuk meraih posisi juara demi mendapatkan sepasang sepatu baru sebagai hadiah.
Film 'Children of Heaven' yang diproduseri MD Pictures ini akan tayang pada 27 Mei 2026 mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara