Senin, 25 MEI 2026 • 10:00 WIB

Film Dokumenter 'Dissidence' Diputar Perdana, Yenny Wahid Soroti Perjuangan Atlet Kembar Panjat Tebing Indonesia

Author

Yenny Wahid (Kiri) - Raviandi dan Ravianto (Tengah) - Rama Dio Syahputra (Kanan) (Indozone/Sagita)

INDOZONE.ID - Pemutaran perdana film dokumenter Dissidence menjadi momen emosional bagi para pencinta olahraga panjat tebing di Indonesia.

Film karya sutradara Rama Dio ini menghadirkan kisah perjuangan dua atlet kembar Indonesia, Raviandi Ramadhan dan Ravianto Ramadhan, yang dikenal dengan julukan “The Twins” di dunia panjat tebing internasional.

Sejumlah tokoh hingga penonton hadir dalam screening perdana film tersebut.

Salah satunya Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia, Yenny Wahid, mengaku tersentuh setelah menyaksikan perjalanan dua atlet muda tersebut.

“Lewat olahraga yang mereka cintai, mereka berjuang membawa nama Indonesia. Kisah mereka bisa jadi inspirasi untuk banyak anak muda lainnya,” kata Yenny.

Baca juga: Pre Screening Film Dokumenter 'Dissidence' di Indonesia, Angkat Kisah Inspiratif Atlet Kembar Panjat Tebing

Dissidence, Kisah Perjuangan Atlet Kembar di Dunia Panjat Tebing

Film Dissidence sendiri mengikuti perjalanan Raviandi dan Ravianto dari tempat latihan sederhana di Jakarta hingga tampil di kompetisi internasional dan jalur panjat ikonik di Pegunungan Alpen, Prancis.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan dukungan, keduanya tetap berusaha menembus kerasnya persaingan dunia panjat tebing, khususnya di kategori lead dan boulder yang masih berkembang di Indonesia.

Film dokumenter ini juga menampilkan kuatnya hubungan persaudaraan antara Raviandi dan Ravianto, sekaligus perjuangan mereka menghadapi sistem kompetisi yang tidak mudah.

Berbeda dengan speed climbing yang sudah banyak menyumbang medali untuk Indonesia, kategori Lead Climbing dan Bouldering memiliki tantangan tersendiri.

Lead Climbing menguji ketahanan fisik dan strategi membaca jalur pada dinding setinggi 12 hingga 15 meter, sementara Bouldering lebih menitikberatkan kreativitas serta kemampuan memecahkan masalah dalam jalur pendek tanpa tali.

Baca juga: Pengertian Film Dokumenter: Berikut Jenis dan Contohnya

Kata Yenny Wahid soal Tantangan Atlet Lead dan Boulder

Menurut Yenny Wahid, perjuangan atlet di kategori tersebut memang tidak mudah. Namun, ia percaya kerja keras akan selalu menemukan jalannya.

“Selalu ada tantangan, tapi ketika terus berjuang, pasti ada jalan keluar dan ada momen di mana semuanya terasa lebih terang,” ujarnya.

Yenny turut menyinggung bagaimana Raviandi dan Ravianto pernah mencetak sejarah saat tampil dan memenangkan kompetisi di Eropa. Momen itu, menurutnya, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia.

“Kami sangat bahagia waktu mereka menang di Eropa. Rasanya bangga sekali akhirnya ada atlet Indonesia yang bisa menembus level itu,” katanya.

Ia berharap dukungan terhadap atlet Lead Climbing dan Bouldering bisa semakin besar, baik dari federasi, pemerintah, maupun masyarakat.

Apalagi, Indonesia kini tengah mempersiapkan diri menghadapi ajang besar seperti Asian Games yang menjadi batu loncatan menuju Olimpiade. 

“Asia punya atlet lead dan boulder yang sangat kuat seperti Jepang, Korea, dan China. Tapi tantangan memang harus dihadapi,” ujar Yenny.

Baca juga: 11 Rekomendasi Film Dokumenter Indonesia, Bikin Merinding dan Melek Realita!

Penonton Ikut Terinspirasi Usai Menonton Dissidence

Selain mendapat perhatian dari federasi, film Dissidence turut menuai respons positif dari para penonton yang hadir dalam screening perdana. 

Pendaki gunung Indonesia, Francisca Dimitri, mengaku langsung membeli tiket begitu pengumuman film dirilis.

Ia merasa kisah Raviandi dan Ravianto menjadi inspirasi bukan hanya bagi atlet panjat tebing, tetapi dunia olahraga outdoor secara luas. 

“Ini bukan cuma soal panjat tebing, tapi tentang perjuangan dan mimpi. Saya ikut terinspirasi,” kata Francisca.

Penonton lainnya, Nikolas dan Dennis, juga menilai Dissidence membuka sudut pandang baru tentang dunia outdoor climbing di Indonesia yang kini semakin berkembang.

“Kami senang karena film ini juga membahas outdoor climbing. Sekarang komunitasnya makin banyak dan makin seru,” ujar mereka.

Baca juga: 10 Film Dokumenter Inspiratif yang Wajib Ditonton, Ada Tentang Alam hingga Isu Sosial

Sementara itu, Hendrawan, paman dari Raviandi dan Ravianto yang juga merupakan seorang atlet panjat tebing, mengaku bangga melihat perjalanan keduanya hingga bisa tampil di level internasional.

Meski begitu, ia menegaskan perjuangan mereka masih panjang.

“Langkah mereka belum selesai. Mudah-mudahan film ini bikin makin banyak orang support atlet-atlet panjat tebing Indonesia,” katanya.

Lewat film Dissidence, perjuangan atlet kembar Raviandi dan Ravianto bukan hanya menjadi cerita tentang olahraga, melainkan tentang mimpi, ketekunan, dan keberanian menembus batas.

Film ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik prestasi atlet Indonesia, ada perjalanan panjang yang penuh tantangan dan dukungan dari banyak pihak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU