Sosok Rama Dio Syahputra dan Awal Mula “Dissidence”: Dari Dunia Produk Keselamatan ke Dokumenter Panjat Tebing
INDOZONE.ID - Film dokumenter 'Dissidence' baru saja diperkenalkan secara terbatas kepada penonton Indonesia tentang perjalanan dua atlet kembar panjat tebing asal Indonesia, Raviandi dan Ravianto, yang menekuni lead dan boulder. Sebelum ditayangkan secara resmi untuk penonton Tanah Air, INDOZONE sempat berbincang dengan sosok di balik dokumenter olahraga outdoor tersebut, Rama Dio Syahputra yang lebih dulu memperkenalkan film tersebut ke penonton mancangara.
Bagi Rama Dio Syahputra, dunia film dokumenter bukanlah sesuatu yang sejak awal ia rencanakan. Ia tidak tumbuh dari sekolah film, tidak pula datang dari lingkungan sinema profesional.
Namun dari pengalaman teknis itulah lahir 'Dissidence', film dokumenter tentang atlet kembar panjat tebing asal Indonesia, Raiandi dan Ravianto, yang menekuni disiplin lead and boulder..
“Awalnya saya suka fotografi,” kata Rama Dio Syahputra saat diwawancarai Indozone. “Pekerjaan saya di bidang video produksi, tapi untuk produk. Jadi saya kerja tuh khusus bekerja soal produk di alat-alat pelindung diri. Di panjat tebing, di caving. di material industri, di pekerjaan ketinggian. Itu mulai dari kaki sampe kepala, saya bikin semua iklan produknya. memang saya punya kultur budaya keamanan yang luar biasa tinggi,” ujarnya.
Di sela pekerjaan itulah ia belajar sinematografi secara otodidak. Mulai dari memahami pencahayaan, komposisi gambar, hingga kerja seorang director of photography (DOP), semuanya dipelajari sambil bekerja langsung di lapangan.
“Sebetulnya saya belajar sambil melakukan,” katanya.
Dokumenter Panjat Tebing Butuh Kemampuan Ganda
Menurut Rama Dio Syahputra, film dokumenter tentang climbing memiliki tantangan yang berbeda dibanding produksi dokumenter biasa. Pengambilan gambar bukan hanya soal estetika visual, tetapi juga menyangkut kemampuan teknis dan keselamatan.
Ia menyebut banyak referensi dokumenter climbing dunia, mulai dari ekspedisi Himalaya, olahraga sport climbing, hingga dokumentasi penyelamatan anak-anak di gua Thailand, semuanya membutuhkan logistik dan kemampuan teknis yang kompleks.
Karena itu, ketika mulai merekam Raviandi dan Ravianto, ia sadar bahwa seorang pembuat film di dunia climbing harus mampu melakukan banyak hal sekaligus.
“Untuk ambil gambar si kembar, saya juga harus naik ke atas, saya bisa dua jam gelantungan sambil merekam mereka.”
Dalam situasi seperti itu, seorang filmmaker tidak hanya fokus pada kamera. Ia juga harus memastikan keselamatan dirinya sendiri.
“Sebelum tekan tombol rekam, saya harus amanin diri sendiri dulu. Saya harus jaga tali saya, lihat anchor saya, cek semuanya, sambil filming. Jadi memang butuh multitasking,” ujarnya..
Tantangan lain datang dari kondisi saat menggantung di tebing yang membuat tubuh terus bergerak dan berputar. Hal-hal teknis seperti rope system menjadi kemampuan wajib sebelum seseorang bisa mengambil gambar dengan aman.
Tidak punya latar film
Meski telah menghasilkan Dissidence, Rama Dio Syahputra tetap merasa dirinya belum bisa disebut sebagai filmmaker sepenuhnya. Ia mengaku tidak memiliki latar pendidikan film dan masih melihat dunia sinematografi sebagai sesuatu yang sangat besar dan kompleks.
“Saya gak punya latar film. Ini dokumenter pertama saya,” katanya.
Bahkan, menurutnya, menyebut karya tersebut sebagai “film” masih terasa berat secara pribadi. Ia merasa apa yang dilakukannya masih sangat kecil dibanding luasnya dunia sinema dokumenter.
Baca juga: Pengertian Film Dokumenter: Berikut Jenis dan Contohnya
Namun demikian, ia percaya bahwa jika film itu membawa dampak positif bagi Raviandi dan Ravianto, maka itu sudah cukup berarti.
“Kalau dampaknya ada untuk Andi dan Anto, ya bagus,” ujarnya.
Rama juga mengaku belum memikirkan proyek dokumenter berikutnya. Baginya, Dissidence lahir bukan karena ambisi membuat film, melainkan karena cerita itu sendiri datang menghampirinya.
“Saya belum bisa bilang next film saya apa,” katanya. “Karena ceritanya ini datang, bukan saya cari.”
Pertemuan di Chamonix
Awal mula Dissidence bermula dari sebuah pertemuan yang tidak direncanakan di Chamonix, kota kecil di kaki Pegunungan Mont Blanc, Prancis.
Di sana, Rama Dio Syahputra bertemu langsung dengan Raviandi dan Ravianto. Saat itu ia sama sekali tidak memiliki niat membuat film dokumenter. Namun setelah mendengar kisah hidup si kembar secara langsung, ia merasa cerita tersebut terlalu penting untuk diabaikan.
“Cerita ini datang ke depan pintu saya. Siapapun yang dengar cerita itu secara langsung pasti merasa ini harus diceritakan,” ujarnya.
Baginya, medium penyampaiannya bisa apa saja, buku, foto, video, atau film. Yang terpenting adalah kisah Raviandi dan Ravianto bisa sampai kepada publik. Dari situlah inspirasi Dissidence lahir dan akan adiperkenalkan di kanal Youtube pada 7 Juni 2026 mendatang.
“Menurut saya, Raviandi dan Ravianto sendiri itu inspirasi saya,” kata Rama Dio Syahputra.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara