Jumat, 29 MEI 2026 • 08:31 WIB

Di Balik Inspirasi Dokumenter ‘Dissidence’; Pertemuan Atlet Kembar Panjat Tebing Indonesia di Charmonix

Author

Rama Dio bersama Raviandi dan Ravianto (INDOZONE/Sagita Rahma Hayati)

INDOZONE.ID - Film dokumenter 'Dissidence' sebentar lagi akan segera ditayangkan secara serentak ke penonton Indonesia, setelah sebelumnya diperkenalkan ke penonton di beberapa negara luar. Sebuah film perjalanan dan perjuangan atlet kembar panjat tebing Indonesia Raviandi dan Ravianto yang dengan keterbatasannya tetap berjuang di bidang yang ditekuninya.

Setelah mengerjakan dari tahun 2023 silam, akhirnya film tersebut rampung dan siap akan bisa dinikmati. Sang sutradara Rama Dio Syahputra pun mengenang awal mula mendapat inspirasi untuk membuat dokumenter tersebut.

Dalam wawancara bersama Indozone, Rama Dio mengatakan dirinya sama sekali awalnya tidak memiliki niat untuk membuat film tersebut. Ide itu muncul ketika pertama kali bertemu Raviandi dan Ravianto di Chamonix, Prancis, tepatnya di kaki pegunungan Mont Blanc pada 2023.

Menurutnya, cerita dua atlet panjat tebing yang menekuni disiplin lead dan boulders tersebut mengetuk pintu hatinya yang paling dalam.

“Sebetulnya inspirasi itu kata yang terlalu ringkas buat saya. Karena ini pertama kalinya saya merasa cerita itu datang ke depan pintu saya sendiri,” ujar Rama Dio.

Baca juga: Sosok Rama Dio Syahputra dan Awal Mula “Dissidence”: Dari Dunia Produk Keselamatan ke Dokumenter Panjat Tebing

Ia mengaku tersentuh setelah mendegar langsung perjuangan Raviandi dan Ravianto yang datang ke Eropa untuk mengikuti kompetisi panjat tebing dunia dengan segala keterbatasan. 

Ravianto, salah satu atlet kembar panjat tebing dalam proses pembuatan dokumenter 'Dissidence' (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

Saat itu, keduanya mengikuti kejuaraan dunia panjat tebing yang diibaratkan Rama sebagai “Piala Dunia”-nya olahraga panjat tebing. Namun berbeda dengan atlet-atlet negara lain yang datang dengan dukungan penuh, Raviandi dan Ravianto berangkat secara mandiri tanpa pelatih dan hanya mengandalkan dukungan komunitas panjat tebing.

Rama Dio kemudian mengetahui berbagai pengorbanan yang dilakukan keduanya demi tetap bisa bertanding. Mulai dari membawa rice cooker sendiri, menghemat biaya makan, hingga membatasi latihan karena mahalnya biaya climbing gym di Eropa.

“Mereka cerita bawa rice cooker sendiri, makan seadanya supaya hemat. Harusnya latihan setiap hari di climbing gym di Eropa, tapi karena biayanya sekitar 50 euro dan terlalu mahal, akhirnya mereka cuma latihan beberapa kali,” katanya.

Sebagai seseorang yang bekerja di industri outdoor dan sering berinteraksi dengan atlet-atlet panjat kelas dunia, Rama merasa kondisi tersebut membuat peluang atlet Indonesia untuk bersaing menjadi jauh lebih berat.

Baca juga: Film Dokumenter 'Dissidence' Diputar Perdana, Yenny Wahid Soroti Perjuangan Atlet Kembar Panjat Tebing Indonesia

“Saya pikir, ini anak Indonesia gimana mau menang kalau kondisinya seperti ini. Mereka ingin berprestasi, membawa bendera merah putih, tapi negaranya sendiri belum benar-benar mendukung mereka untuk ada di level itu,” ungkapnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Rama menilai Raviandi dan Ravianto tidak pernah mengeluh. Keduanya tetap bersikap positif dan terus berusaha tanpa meminta belas kasihan.

“Mereka gak pernah menjatuhkan siapa pun. Mereka cuma cerita pengalaman mereka sebagai pemanjat. Kesulitan ada, tapi mereka gak pernah ngeluh, gak pernah minta-minta,” lanjutnya.

Hal itulah yang kemudian membuat Rama Dio merasa kisah Raviandi dan Ravianto harus diceritakan ke lebih banyak orang, khususnya penonton Eropa.

Ia bahkan mengaku awalnya tidak pernah membayangkan dokumenter tersebut akan dikenal di Indonesia karena sejak awal film itu dibuat untuk audiens luar negeri.

Menurutnya, masyarakat Eropa yang hidup dengan fasilitas lengkap justru perlu melihat bagaimana atlet dari negara berkembang tetap mampu berjuang dengan segala keterbatasan.

“Orang-orang Eropa itu punya semuanya, infrastrukturnya ada, dukungan atlet ada, tapi masih banyak yang mengeluh. Saya ingin menunjukkan bahwa di belahan dunia lain ada orang-orang yang berusaha mati-matian untuk sampai ke puncak meski tidak punya banyak cara,” kata Rama.

Baca juga: ARMY Wajib Nonton! Konser Live dan Dokumenter BTS Hadir di Netflix

Bagi Rama Dio, 'Dissidence' bukan sekedar dokumenter olahraga atau film tentang ambisi menaklukkan puncak tertinggi. Ia merasa kisah Raviandi dan Ravianto jauh lebih manusiawi dibanding sekadar persaingan yang tercepat dan terbaik.

“Kalau cuma bikin dokumenter soal pendakian paling sulit atau siapa paling cepat, itu tiap hari saya lihat. Tapi cerita si kembar ini pesannya sangat manusiawi,” tuturnya.

Melalui 'Dissidence', Rama Dio ingin memperlihatkan bahwa olahraga panjat tebing bukan hanya soal kompetisi, melainkan tentang perjuangan, ketahanan, dan harapan manusia dalam menghadapi keterbatasan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU