Pesan dan Harapan Tersirat di 'Dissidence', Perjuangan Atlet Kembar Panjat Tebing: Bukan Sekadar Soal Prestasi
INDOZONE.ID - Film dokumenter "Dissidence" tidak hanya merekam perjuangan atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi Ramadhan dan Ravianto Ramadhan, dalam mengejar pencapaian olahraga di level dunia. Bagi sutradaranya, Rama Dio Syahputra, film tersebut juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan, kritik yang membangun, serta refleksi mengenai perkembangan olahraga di Indonesia.
Dalam wawancara dengan Indozone, Rama menjelaskan bahwa sejak awal dirinya tidak ingin membuat film yang hanya berfokus pada pencapaian atlet semata. Menurutnya, kisah tentang rekor, kemenangan, atau keberhasilan mencapai puncak sudah terlalu sering ditampilkan dalam berbagai dokumenter olahraga.
Ia mengaku banyak terinspirasi oleh film-film dokumenter petualangan dan olahraga yang diputar di berbagai festival internasional, terutama di Eropa. Beberapa di antaranya menampilkan ekspedisi ekstrem, penyelaman penyelamatan, hingga kisah atlet yang harus menghadapi situasi perang dan krisis kemanusiaan.
"Saya lihat di festival outdoor di Eropa, gambarnya keren-keren sekali. Ada yang masuk ke dalam gua ribuan meter, ada penyelaman penyelamatan, ada juga cerita atlet Ukraina yang harus mengungsi karena perang. Yang menarik bukan cuma aksinya, tapi konteks yang ada di belakangnya," katanya kepada Indozone.
Menurut Rama, konteks itulah yang ingin ia hadirkan dalam Dissidence. Film ini tidak hanya menampilkan perjuangan Raviandi dan Ravianto di atas tebing, tetapi juga realitas yang sering dihadapi atlet Indonesia, mulai dari keterbatasan dukungan hingga persoalan infrastruktur olahraga.
"Setiap cabang olahraga di Indonesia sebenarnya punya isu yang hampir sama. Dukungan, infrastruktur, pembinaan, itu selalu muncul. Karena sudah terlalu sering terjadi, kadang dianggap sebagai masalah klasik. Padahal kalau terus terjadi, berarti memang masih menjadi masalah," ujarnya.
Meski mengangkat persoalan tersebut, Rama menegaskan bahwa filmnya tidak dibuat untuk menjelekkan Indonesia di mata dunia internasional. Sebaliknya, ia ingin menunjukkan bagaimana para atlet tetap mampu berkembang dan berprestasi di tengah berbagai keterbatasan.
"Saya bukan mau menjelek-jelekkan Indonesia. Justru saya ingin menunjukkan situasinya apa adanya. Indonesia itu sedang terus berkembang. Saya lebih memilih melihat sisi positifnya karena kalau melihat sisi negatifnya, tidak akan ada habisnya. Dan itu juga terjadi di banyak negara, bukan hanya Indonesia," jelasnya.
Rama menambahkan bahwa bahkan negara-negara maju yang memiliki tradisi olahraga kuat seperti Prancis pun masih menghadapi berbagai tantangan dalam sistem olahraga mereka.
Karena itu, melalui Dissidence, ia berharap publik dapat melihat isu-isu tersebut secara lebih objektif dan menjadikannya bahan refleksi bersama.
"Yang saya harapkan adalah kritik yang membangun untuk federasi dan ekosistem olahraga. Jangan sampai orang langsung baper dan menganggap film ini sedang menjelekkan Indonesia di Eropa. Tonton dulu filmnya, lihat konteksnya, lalu pelajari lebih dalam," katanya.
Salah satu alasan mengapa Rama memilih judul Dissidence adalah karena kata tersebut memiliki makna filosofis yang kuat. Secara umum, dissidence merujuk pada keberanian untuk berbeda pendapat atau menyuarakan pandangan yang tidak selalu sejalan dengan arus utama.
Namun dalam film ini, makna tersebut diterjemahkan melalui perjalanan olahraga dan perjuangan atlet.
"Saya ingin menyampaikan makna dari kata dissidence itu sendiri. Ada filosofi yang cukup dalam di belakangnya, lalu saya coba konversikan melalui panjat tebing dan perjalanan mereka. Seperti apa bentuknya ketika diterapkan dalam dunia olahraga," ujarnya.
Di sisi lain, Rama menegaskan bahwa Raviandi dan Ravianto sendiri tidak pernah memiliki niat untuk menyerang atau menjatuhkan pihak mana pun melalui kisah yang ditampilkan dalam film tersebut. Menurutnya, kedua atlet itu hanya ingin terus berkembang dan membawa nama Indonesia ke panggung yang lebih tinggi.
"Andi dan Anto itu enggak muluk-muluk. Mereka tidak pernah ingin menjatuhkan orang lain atau merusak nama baik siapa pun. Hari ini mereka berjuang untuk Indonesia, berharap bisa masuk Olimpiade dan terus berkembang sebagai atlet," kata Rama.
Pada akhirnya, Dissidence hadir bukan hanya sebagai dokumenter tentang panjat tebing atau pencapaian atlet elite. Film ini juga menjadi potret tentang ketekunan, harapan, dan keberanian untuk terus melangkah di tengah berbagai keterbatasan.
Melalui kisah Raviandi dan Ravianto Ramadhan, Rama Dio ingin mengajak penonton melihat bahwa sebuah prestasi tidak pernah berdiri sendiri. Di baliknya terdapat perjalanan panjang, dukungan yang perlu diperjuangkan, serta semangat untuk terus bergerak maju demi masa depan olahraga Indonesia yang lebih baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara