INDOZONE.ID - Dokumenter 'Dissidence' menyoroti perjalanan luar biasa atlet panjat tebing kembar, Raviandi dan Ravianto, yang dikenal karena keberanian dan komitmen mereka sejak usia dini. Sutradara Rama Dio Syahputra menceritakan bagaimana proses pembuatan film ini penuh tantangan, namun diwarnai momen unik yang tak terlupakan baik bagi dirinya maupun kembar atletik ini.
Rama menekankan karakter santai kedua atlet ini di luar jalur panjat tebing. Seperti yang ia ungkpakna saat diwawancara Indozone.
“Mereka cuek banget, jalan di Swiss pake sendal jepit, pake sarung, cuek aja,” ujarnya sambil tertawa.
Namun begitu berada di jalur panjat tebing, segala sesuatu berubah total.
“Setiap pegangan tangan, setiap gerakan, itu butuh decision making yang luar biasa tinggi, yang butuh keberanian. Mereka terlatih untuk itu sejak umur 4 tahun,” lanjut Rama.
Keberanian ini diuji ketika syuting di Eropa. Raviandi dan Ravianto menghadapi jalur panjat dengan tingkat kesulitan tinggi dan waktu terbatas.
“Biasanya jalur ini dipelajari setahun, mereka selesaikan dalam 3 hari. Pas jalurnya basah, nggak bisa dipanjat. Ego sutradara saya muncul, harus selesai. Jalur 40 meter, setiap pegangan kami keringin satu per satu sampai posisi badan mereka benar,” jelas Rama saat diwawancarai Indozone.
Selain tantangan fisik, Rama juga menghadapi sisi logistik dan finansial yang menegangkan. Dari script writing, pembiayaan, kamera, pengambilan gambar, distribusi, hingga transportasi dan jadwal syuting, semuanya ia tangani sendiri. Bahkan selama dua tahun, Rama membagi waktu antara pekerjaan, editing malam, dan syuting.
“Mulai jam 6 sore sampai 11 malam, selama dua tahun saya cicil semuanya,” ungkapnya.
Proses syuting ini juga menghadirkan cerita unik. Karena terbatasnya transportasi umum di jalur tebing, Rama harus mengatur mobil agar mereka bertiga bisa sampai lokasi.
“Kami berjalan 20 kilometer sambil numpang mobil orang di jalanan. Lalu, ada saatnya bisa nyewa mobil, sehari 80 euro, maksimalin waktunya. Semua terukur milimeter supaya nggak ada sumber daya atau kesempatan yang kebuang,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara