Rock In Solo 2025 (Sumber: Press Release)
INDOZONE.ID - Rock In Solo 2025 yang digelar di Benteng Vastenburg pada 22–23 November 2025 hadir dengan fokus pada aktivisme dan isu sosial. Festival musik metal terbesar di Jawa Tengah ini menegaskan diri sebagai platform bagi band-band untuk menyuarakan kritik terhadap bencana lingkungan, kebijakan publik yang merugikan masyarakat, dan isu sosial lainnya di Indonesia.
Kolaborasi dengan Trend Asia menghadirkan tiga band, yaitu SUKATANI, The Brandals, dan Down For Life, yang menyoroti isu ekstraktivisme di Pracimantoro, Wonogiri, penggundulan hutan untuk energi, serta revisi KUHAP oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
Sesi talkshow yang diselenggarakan Trend Asia membahas proyek energi kotor seperti geothermal di Dieng, Proyek Strategis Nasional Merauke, racun berbahaya dari PLTU, pendanaan bank di industri batu bara, perlindungan hutan dari ekspansi industri energi (co-firing), Danantara, serta isu pajak dan ketimpangan ekonomi. Diskusi ini diikuti secara interaktif oleh para musisi dan penggemar musik metal.
Baca juga: Kembali Bergulir Tahun ini, Rock in Solo Festival 2025 Dipastikan Akan Berbeda dari Tahun Sebelumnya
Festival menampilkan musisi internasional dan nasional papan atas. Headliner global termasuk legenda Black Metal Mayhem (Norwegia), Belphegor dari Austria, serta hardcore punk Deez Nuts Band dari Australia. Band internasional lain seperti Stillbirth (Jerman), Ugoslabier (Thailand), dan Tariot (Singapura) juga tampil. Dari kancah domestik, hadir band-band penting seperti Down For Life, Negatifa (Jakarta), The Brandals, dan Sukatani. Kehadiran mereka menghadirkan pesan sosial langsung kepada ribuan penggemar.
Band Sukatani memanfaatkan panggung untuk menyuarakan protes terhadap Proyek Semen Pracimantoro, menyoroti dampak serius terhadap ekosistem gamping yang mengancam pasokan air bersih bagi warga lokal. The Brandals mengkritik revisi KUHAP yang dianggap berpotensi membatasi kebebasan berekspresi dan digunakan untuk kriminalisasi masyarakat yang kritis terhadap kekuasaan.
Rock In Solo suarakan ketidakadilan lingkungan dan sosial (Sumber: Press Release)
Sebagai tuan rumah dan kekuatan utama festival, band Groove Metal Down For Life menutup acara dengan seruan agar publik dan penggemar musik keras terus menyuarakan aspirasi, terutama terkait kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat dan bencana iklim seperti banjir rob di Pulau Jawa. Mereka menegaskan pentingnya menjaga semangat perlawanan melalui musik.
Diskusi dan kegiatan di Rock In Solo 2025 diinisiasi secara kolaboratif oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, termasuk CELIOS, Trend Asia, Yayasan Indonesia Cerah, Transparency International Indonesia, LBH Semarang, Yayasan Pusaka, dan komunitas terdampak industri ekstraktif.
Baca juga: Astrid Widayani Sebut Event Rock in Solo Bisa Hidupkan Semua Ciri yang Ada di Kota Solo
Rock In Solo 2025 membuktikan bahwa musik keras tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai alat ekspresi kritis dan kampanye sosial, menghadirkan platform bagi generasi muda untuk menyuarakan ketidakadilan dan isu-isu penting di masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release