INDOZONE.ID - Kontroversi besar pecah di media sosial setelah penyanyi pop Sabrina Carpenter mengecam keras penggunaan lagunya, “Juno”, dalam sebuah video penangkapan imigran yang dipublikasikan oleh White House dan menampilkan aksi ICE (Immigration and Customs Enforcement). Tanpa izin, tanpa konfirmasi, dan tanpa konteks yang manusiawi, hal itulah yang membuat kasus ini meledak dan menjadi sorotan publik dunia.
Video tersebut menampilkan cuplikan operasi penangkapan imigran, lengkap dengan teks lirik “Have you ever tried this one? Bye-bye” yang identik dengan lagu “Juno”. Banyak warganet langsung mempertanyakan bagaimana bisa lagu pop bertema ringan mendadak dipakai untuk mempromosikan kebijakan imigrasi yang begitu sensitif.
Baca juga: Sabrina Carpenter Ungkap Cover Album Man’s Best Friend Terakhir, Fans Heboh!
Sabrina Carpenter pun tak tinggal diam. Melalui unggahan tegas di platform X, Sabrina menulis, “This video is evil and disgusting. Do not ever involve me or my music to benefit your inhumane agenda.” Kalimat itu langsung menjadi trending topic global, dengan tagar seperti #StandWithSabrina dan #MusicIsNotPoliticalPropaganda yang meluap di berbagai platform.
Di sisi lain, White House justru melontarkan respons yang semakin memicu perdebatan. Juru bicara mereka, Abigail Jackson, menyatakan bahwa pemerintah “tidak akan meminta maaf” atas deportasi yang mereka sebut berfokus pada “kriminal berbahaya.” Bahkan, mereka menyisipkan sindiran menggunakan lirik dari lagu Carpenter lainnya, “Manchild”, seolah menyulut api yang sudah membesar.
Kontroversi ini mengangkat isu lebih luas: apakah pemerintah berhak memakai karya musisi untuk konten politik tanpa persetujuan? Tidak ada kejelasan apakah White House mengurus lisensi musik, namun penggunaan lagu yang dikaitkan dengan isu deportasi dinilai tidak etis, terlebih bagi seorang artis yang ingin menjaga jarak dari konten bermuatan kebijakan keras.
Fenomena ini pun bukan pertama kali terjadi. Beberapa musisi global, termasuk Olivia Rodrigo, sebelumnya juga memprotes penggunaan lagu mereka dalam kampanye dan video politik terkait deportasi.
Baca juga: Sabrina Carpenter Sebut Sampul Album Kontroversial 'Man's Best Friend' adalah Sebuah Metafora
Kini, publik menanti langkah lanjutan: apakah akan ada tuntutan? Apakah pemerintah akan kembali memakai musik pop untuk narasi politik? Yang jelas, kasus ini menjadi pengingat bahwa musik bukan sekadar hiburan, karena setiap karya memiliki makna, pesan, dan hak yang harus dihormati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ijr.com