Rabu, 03 JUNI 2026 • 18:42 WIB

Dee Lestari Rilis Album Bertajuk "(Jangan) Jatuh Cinta", Berisi Delapan Lagu Penuh Cerita

Author

Dee Lestari rilis album utuh berisi delapan lagu. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)

INDOZONE.ID - Setelah sebelumnya merilis tiga single "(Jangan) Jatuh Cinta", "Perahu Kertas", dan "Kabarku", penulis sekaligus penyanyi Dewi Lestari atau biasa dikenal dengan sebutan Dee Lestari akhirnya meluncurkan album utuh berisi delapan lagu termutakhir bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta.

Album ini turut melibatkan Afgan pada lagu "Cuma Satu Nama", lagu yang ditulis oleh Dee Lestari dan almarhum suaminya, Reza Gunawan. 

Selain itu, lagu "Hujan Bulan Juni" juga hadir dalam album penuhnya itu, yang mana kolaborasi tertunda antara Dee Lestari dan almarhum Sapardi Djoko Damono. 

Lagu yang tadinya dibuat untuk film adaptasi novel Hujan Bulan Juni tahun 2017, kini akhirnya menjadi karya rekaman dan mengisi album Dee Lestari.

Baca juga: Perjalanan Hidup Andien Tertuang Dalam Album Ke-8 'Dan Lalu' Kolaborasi dengan Dee Lestari

(Jangan) Jatuh Cinta menjadi tajuk album yang menggambarkan perjalanan hati mengarungi berbagai pengalaman cinta. 

Penyusunan lagu di album ini disusun sedemikian rupa untuk menggambarkan warna-warni dan naik turunnya perjalanan Sang Hati.

Album dibuka oleh single pertama "(Jangan) Jatuh Cinta", diaransemen secara apik sekaligus menyentuh oleh Rendy Pandugo, yang hadir sebagai "peringatan" akan perjalanan di depan sana, vokal pendukung Teddy Adhitya pun memberi warna tersendiri Dilanjut dengan "Patah Hati", hasil garapan Gala Yudhatama & Pandji Akbari dengan sound modern dan dinamis, menjadi pengalaman pertama hati yang patah akibat cinta yang tak bisa ia hindari.

Perjalanan berlanjut ke "Kabarku", single ketiga sekaligus menjadi lagu urutan ketiga, menjadi lagu "rock bottom" ketika hati diempaskan ke titik terendah. 

Diaransemen dengan sangat soulful oleh Fellow Amateurs— Mikha Angelo, Yosua Gian, Geddi Jaddi Membummi, Nathania S. Alexandra —lagu ini menjadi pemikat hati bagi para pendengar karena liriknya yang lugas, indah, dan relatable.

Pada lagu keempat "Hujan Bulan Juni", Sang Hati kembali menemukan harapan dalam dinamika kompleks yang masih harus ia negosiasikan. 

Puisi legendaris Sapardi "Hujan Bulan Juni" menjadi basis cerita, dan Gardika Gigih merajutnya dalam suasana live session yang merasuk. Suara choir Barsena Bestandhi memberi kesan megah dan penguat bagi lagu ini.

Lagu kelima "Jadi Udara" menjadi udara segar sekaligus babak manis. Hati menemukan hati lain yang akhirnya memupuskan ketidakpastian. 

"Jadi Udara" digarap oleh Dimas Wibisana dalam aransemen cerah dan upbeat, menghadirkan Arina Ephipania (Mocca) sebagai backing vokal, tak ketinggalan pula tim manajemen Dee Lestari termasuk Kamga Mo, penata vokalnya, ikut bernyanyi. Sebuah lagu anthem yang menjadi aksen menarik di album ini.

Lagu keenam "Perahu Kertas" menjadi pengukuh perjalanan hati yang akhirnya menemukan tambatannya. Aransemen Petra Sihombing berhasil melahirkan ulang lagu yang bisa dibilang telah menjadi nomor hits klasik Dee Lestari.

Lagu ketujuh "Cuma Satu Nama" menjadi puncak perayaan dari kebersamaan dua hati yang akhirnya berani melangkah ke setapak baru. 

Lagu kolaborasi Dee Lestari dan (alm) Reza Gunawan ini pun dibawakan duet bersama penyanyi pria papan atas Indonesia, Afgan. Petra Sihombing kembali dipercaya untuk memproduseri, dan Petra memberikan aransemen segar, elegan, dan timeless untuk lagu cinta duet ini.

Album penuhnya ini ditutup oleh "Bintang Utara". Kematangan Sang Hati diuji ketika ia akhirnya belajar melepas dengan kerelaan. 

Baca juga: Taylor Swift Umumkan Perilisan Lagu Orisinal untuk Film 'Toy Story 5' Bertajuk "Knew It, I Know You"

"Bintang Utara" menceritakan relasi universal antara orang tua dan anak. Ketika seorang anak tumbuh besar dan lepas, di situlah hati kembali belajar tentang makna cinta yang sesungguhnya, tanpa syarat dan batas. 

Lafa Pratomo menghadirkan aransemen orkestrasi yang manis dan membumi. Menyayat sekaligus penuh harapan.

Delapan belas tahun sudah berlalu sejak album Rectoverso. Dee kembali melangkah ke dunia musik dengan solid lewat album (Jangan) Jatuh Cinta. 

Pendengar akan dimanjakan oleh lagu-lagu yang sarat cerita dan niscaya akan menjadi nomor-nomor abadi, yang tetap relevan menembus zaman, sebagaimana telah terbukti lewat banyak lagu Dee Lestari sebelumnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU