INDOZONE.ID – Kisah perjalanan panjang Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana atau Mbak Tutut kini terdokumentasi dalam buku “Selangkah di Belakang Mbak Tutut” yang diluncurkan di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, pada Jumat, 15 Agustus 2025. Buku ini merangkum perjalanan hidup putri sulung Presiden Soeharto yang sarat dengan dedikasi di bidang sosial, pembangunan, dan kepemimpinan internasional.
Penulis buku, Donna Sita Indria, mengungkapkan bahwa ide penulisan ini lahir dari dokumentasi yang ia simpan sejak 35 tahun lalu saat menjabat Pemimpin Redaksi Tabloid Wanita Indonesia. Ia menuturkan banyak mengarsipkan kegiatan Mbak Tutut, mulai dari sosial, bisnis, hingga politik, yang sebagian besar telah dipublikasikan di media tersebut.
Donna mengaku proses penulisan memakan waktu sekitar lima tahun. Banyaknya narasumber yang mayoritas sahabat dekat Mbak Tutut membuatnya menikmati setiap tahapan. Mereka, kata Donna, menceritakan pengalaman menyenangkan di balik tugas-tugas berat karena Mbak Tutut dikenal sebagai pribadi yang ceria dan mengayomi.
Baca juga: Elwin Hendriyanto Garap Lagu Daerah dengan Sentuhan Modern di PSM 2025
Menurut Donna, beberapa narasumber yang diwawancarainya merupakan tokoh internasional. Dua di antaranya adalah mantan Presiden Filipina Fidel Ramos dan Perdana Menteri Malaysia yang kala itu masih menjabat. Keduanya memberikan pandangan mengenai proyek-proyek besar yang melibatkan Mbak Tutut di luar negeri.
Buku ini menyajikan potret multidimensi Mbak Tutut. Tidak hanya sebagai tokoh bisnis dan inisiator program sosial, tetapi juga pelestari seni budaya serta pewaris nilai luhur keluarga Cendana. Dalam bidang infrastruktur, ia dikenal memimpin pembangunan jalan layang tol pertama di Indonesia dengan teknologi Sosrobahu, memenangkan tender internasional untuk membangun Metro Manila Skyway di Filipina, dan jalan tol Ayer Hitam – Yong Peng Timur di Malaysia.
Anthony Budiawan, salah satu tokoh yang memberikan pandangan dalam buku ini, menilai keteguhan Mbak Tutut dalam menjaga etika keluarga sekaligus melayani masyarakat menjadi teladan di tengah tantangan zaman. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut diraih tanpa mengandalkan nama besar sang ayah, melainkan lewat perjuangan dan pendanaan internasional.
Selain infrastruktur, Mbak Tutut aktif sebagai aktivis sosial. Ia turun langsung ke lokasi bencana, memimpin Persatuan Donor Darah Indonesia, dan berperan di Palang Merah Indonesia. Kepemimpinannya juga diakui dunia melalui jabatan Presiden FIODS selama tiga periode.
Baca juga: Latihan Terakhir Pagelaran Sabang Merauke 2025, Suguhkan Hikayat Nusantara di Yogyakarta
Buku ini juga menyoroti kiprahnya di organisasi Kirab Remaja, yang menjadi wadah pembinaan generasi muda untuk menjunjung nilai Pancasila, kedisiplinan, kemanusiaan, dan persatuan. Upaya ini menjadi embrio pembentukan karakter pemuda Indonesia di kancah internasional.
Tria S.P. Ismail Saleh, penanggung jawab buku, mengatakan bahwa karya ini adalah ajakan untuk kembali pada nilai-nilai ketulusan, kesetiaan, dan keberanian dalam mengabdi. Ia menilai warisan yang disampaikan Mbak Tutut mencakup seluruh aspek, mulai dari keluarga, bisnis, hingga sosial.
Peluncuran “Selangkah di Belakang Mbak Tutut” diharapkan menjadi jembatan nilai antara generasi pendahulu dan generasi penerus. Buku ini hadir sebagai narasi alternatif yang reflektif, jujur, dan memberi ruang pembelajaran lintas zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release