Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 24 JULI 2026 • 11:47 WIB

Bukan Kutukan Dewa, Ini Sebenarnya Alasan Odysseus Enggan Pulang ke Rumah dalam Film Odyssey

Bukan Kutukan Dewa, Ini Sebenarnya Alasan Odysseus Enggan Pulang ke Rumah dalam Film OdysseySinopsis The Odyssey, film fantasi terbaru 2026 (IMDb)

INDOZONE.ID - Hampir semua ulasan tentang "The Odyssey" garapan Christopher Nolan membahas hal yang sama, IMAX 70mm pertama untuk kisah epik Yunani, jajaran bintang papan atas, sampai skala produksi yang megah. 

Tapi ada satu sudut pandang yang jarang disentuh, padahal justru inilah yang bikin film ini terasa jauh lebih personal dan gelap dibanding versi kisah Odysseus mana pun yang pernah kita kenal, kemungkinan bahwa Odysseus sendiri yang sebenarnya enggan pulang.

Bukan Dewa yang Menghalangi, Tapi Rasa Bersalah

Dalam mitologi aslinya, perjalanan panjang Odysseus kembali ke Ithaca selalu digambarkan sebagai hasil murka para dewa.

Baca juga: 8 Dewa dan Monster Yunani di 'The Odyssey', Film Fantasi Epik Christopher Nolan

Namun film ini menyisipkan kemungkinan lain yang jauh lebih menyeramkan secara psikologis, bahwa keterlambatannya pulang bukan murni kutukan dari luar, melainkan semacam hukuman yang ia ciptakan sendiri.

Akibat rasa tidak layak menerima kebahagiaan setelah kekejaman yang ia lakukan selama Perang Troya. Dengan kata lain, Odysseus bukan korban nasib buruk, ia mungkin justru pelaku yang menghukum dirinya sendiri tanpa disadari.

Angle ini jarang jadi sorotan karena kebanyakan orang datang menonton film ini dengan ekspektasi kisah "pahlawan pulang perang", bukan studi karakter tentang trauma dan penyangkalan diri seorang tokoh yang selama ribuan tahun dianggap teladan.

Waktu yang Diperlakukan Seperti Peta, Bukan Garis Lurus

Ciri khas Nolan dalam mempermainkan struktur waktu kembali muncul di sini, mirip pendekatan yang ia pakai di "Oppenheimer".

Alih-alih menyusun cerita secara linear dari masa lalu ke masa kini, masa lalu, masa kini, dan bahkan bayangan masa depan disusun berdampingan.

Seolah semuanya bisa dikunjungi ulang kapan saja, dengan makna yang berubah setiap kali diputar kembali dalam ingatan karakternya.

Pendekatan ini membuat "The Odyssey" terasa kurang seperti epik petualangan konvensional, dan lebih seperti eksplorasi tentang bagaimana ingatan manusia bekerja, tidak pernah benar-benar selesai, selalu bisa ditafsir ulang tergantung siapa yang mengenangnya.

Cyclops sebagai Korban, Bukan Monster

Salah satu kejutan paling anti-mainstream dari film ini adalah caranya membalik simpati penonton. Alih-alih sepenuhnya memihak Odysseus sebagai pahlawan yang cerdik mengalahkan raksasa bermata satu.

Film ini menghadirkan sudut pandang yang membuat sang Cyclops terasa lebih mirip korban perampokan rumah oleh sekelompok orang asing yang menyusup ke wilayahnya sendiri. Framing ini secara halus mempertanyakan siapa sebenarnya yang pantas disebut monster dalam kisah ini.

Odysseus Bukan Pahlawan Sempurna, dan Filmnya Sadar Betul Soal Itu

Yang membuat pendekatan ini terasa berani adalah keputusan Nolan untuk tidak memberi kesimpulan moral yang gamblang di akhir cerita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: IMDb, Rotten Tomatoes

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bukan Kutukan Dewa, Ini Sebenarnya Alasan Odysseus Enggan Pulang ke Rumah dalam Film Odyssey

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!