Sabtu, 18 APRIL 2026 • 12:09 WIB

Review Film Ghost in the Cell, Horor Komedi Sarat Isu Sosial Khas Joko Anwar

Author

Cuplikan Film Ghost In The Cell (Indozone/Sagita)

INDOZONE.ID - Film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar resmi tayang pada 16 April 2026. Film ini menjadi karya ke-12 dari sineas tersebut dan menghadirkan kombinasi genre horor dan komedi dalam satu paket yang cukup segar.

Diproduksi oleh Come and See Pictures, film ini tak hanya menghibur, tetapi membawa pesan sosial yang cukup kuat dan relevan dengan kondisi saat ini.

Sinopsis Ghost in the Cell

Ghost in the Cell, film komedi horor Joko Anwar 2026 (IMDb)

Teror di Balik Tembok Penjara

Ghost in the Cell mengambil latar di Lapas Labuhan Angsana, tempat para narapidana hidup di tengah tekanan, ketidakadilan, hingga konflik antar sesama tahanan.

Baca juga: Mengungkap Simbol dan Kritik Sosial dalam Film 'Ghost in the Cell' Karya Joko Anwar

Situasi semakin mencekam ketika seorang napi baru masuk dan satu per satu tahanan mulai tewas dengan cara yang mengerikan.

Teror tersebut ternyata berkaitan dengan sosok hantu yang membunuh orang-orang dengan aura atau energi paling negatif.

Hal ini membuat para napi berlomba-lomba berbuat baik demi menjaga “aura positif” mereka.

Akan tetapi, di lingkungan penjara yang penuh ketidakadilan, hal tersebut tentu bukan perkara mudah.

Hingga akhirnya, mereka menyadari satu-satunya cara bertahan adalah dengan bersatu, bahkan untuk melawan penindas dan ancaman supranatural sekalipun.

Film yang Ringan, Relatable, dan Menghibur

Para cast dan produser film Ghot in the Cell (Handout)

Saat Indozone diberikan kesempatan untuk menyaksikan film ini lebih dahulu pada Kamis (09/04/2026) di Epicentrum XXI, Ghost in the Cell terasa sebagai tontonan yang sangat enjoyable secara keseluruhan.

Meski mengangkat isu sosial seperti sistem yang korup dan ketimpangan di dalam penjara, film ini tidak terasa berat.

Cerita yang disajikan cukup mudah diikuti dan terasa dekat dengan realitas, sehingga penonton tetap dapat menikmati alur tanpa harus berpikir terlalu kompleks.

Baca juga: Ghost in the Shell , The Major Sang Manusia Cyber Pembasmi Terorisme

Dengan latar penjara, film ini tutut menghadirkan dinamika khas seperti pembagian kelompok antar napi, mulai dari kelompok kriminal berat hingga kelompok yang menjadi pusat cerita. Elemen ini terasa familiar, namun tetap dikemas dengan cara yang menghibur.

Menariknya, porsi komedi dalam film ini terasa lebih dominan dibandingkan horornya. Banyak momen yang memancing tawa penonton, baik dari dialog yang sarkas maupun situasi yang terasa relate.

Bahkan, dalam penayangan awal, gelak tawa penonton cukup sering terdengar sepanjang film berlangsung.

Baca juga: First Impression Film 'Ghost in the Cell' Karya Joko Anwar: Lebih dari Sekadar Horor, Penuh Kritik Sosial

Sinematografi yang Kuat, Meski Ada Catatan di CGI

Film Ghost in the Cell bakal tayang di 86 negara. (Handout)

Dari sisi visual, Ghost in the Cell masih mempertahankan ciri khas sinematografi ala Joko Anwar yang rapi dan terukur. Penggunaan warna terlihat kontras namun tidak berlebihan, sehingga tetap nyaman dipandang.

Meski begitu, terdapat beberapa bagian CGI yang terasa kurang halus dan masih terlihat “buatan”. Namun, kekurangan tersebut tidak terlalu mengganggu pengalaman menonton secara keseluruhan.

Hal yang cukup menonjol adalah bagaimana adegan kematian para napi dikemas secara artistik. Setiap momen dibuat dengan pendekatan visual yang memiliki makna, tidak sekadar menampilkan unsur horor semata.

Akting Para Aktor dengan Ansambel Kuat Lintas Generasi

Film 'Ghost in the Cell' tayang 16 April 2026 di bioskop Indonesia. (Instagram/@jokoanwar)

Film ini diperkuat oleh deretan aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Rio Dewanto, hingga Morgan Oey.

Baca juga: Film 'Ghost In The Cell' dari Joko Anwar Bakal Tayang di 86 Negara!

Selain itu, ada pula Bront Palarae yang mewakili talenta Asia Tenggara. Secara keseluruhan, film ini melibatkan lebih dari 100 pemeran, menciptakan ansambel yang solid.

Dari sisi akting, para pemain tampil maksimal dan mampu menghidupkan karakter masing-masing dengan baik. Eksplorasi emosi yang diberikan terasa natural, baik dalam adegan serius maupun komedi.

Sarat Isu Sosial yang Relevan

Cuplikan Film Ghost In The Cell (Indozone/Sagita)

Di balik balutan horor dan komedi, Ghost in the Cell turut mengangkat isu serius seperti sistem yang korup, privilese bagi narapidana tertentu, hingga ketidakadilan yang terjadi di dalam penjara.

Menariknya, meski berakar dari konteks Indonesia, isu yang diangkat terasa universal dan relevan dengan kondisi global saat ini.

Dengan durasi 1 jam 46 menit, Ghost in the Cell berhasil menjadi tontonan yang ringan namun tetap bermakna. Film ini tidak memaksa penonton untuk berpikir terlalu keras, tetapi tetap memberikan refleksi melalui cerita yang disajikan.

Kombinasi horor, komedi, serta kritik sosial menjadikan film ini sebagai salah satu karya yang layak untuk ditonton, terutama bagi penonton yang mencari hiburan dengan sentuhan pesan yang relevan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU