Senin, 08 JUNI 2026 • 11:00 WIB

Mengenal Banff, Festival Film Dokumenter Outdoor Dunia: “Dissidence” dari Indonesia Sempat Diputar

Author

Film 'Dissidence' ditayangkan di Banff Center Mountain Film Festival (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

INDOZONE.ID - Film dokumenter karya sutradara Indonesia Rama Dio Syahputra berjudul "Dissidence" turut mendapat perhatian di ajang Banff Centre Mountain Film and Book Festival di Kanada, salah satu festival film pegunungan dan petualangan paling bergengsi di dunia. Film ini mengangkat kisah perjuangan atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi dan Ravianto, dalam menghadapi tantangan hidup sekaligus perjalanan mereka mengejar mimpi di dunia olahraga ekstrem.

Pemutaran "Dissidence" di Banff menjadi momen penting karena film tersebut diputar lebih dahulu di panggung internasional sebelum dirilis resmi di Indonesia. Kehadiran film ini juga menandai semakin besarnya perhatian dunia terhadap karya dokumenter dan cerita petualangan dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Dalam wawancara dengan INDOZONE, Rama DIo menceritakan saat filmnya diambil oleh Banff dan mengapa ia memilih untuk tayang dulu di festival film di mancanegara sebelum masuk ke Indonesia.

"(Filmnya) diambil sama festival di Banff Mountain Film Festival di Kanada, masuk keliling dunia ke 43 negara 1200 kali proyeksi di semua film outdoor. Saya pun gak sangka. Saya pikir itu bonus lah. Terus semua itu rejeki yang didapat. Karena untuk saya yang penting kepuasan saya itu secara pribadi. Karena saya handle semuanya, saya gak punya uang ya. Ibaratnya untuk bikin film short gini, harus ikutin atletnya, bayar atlet untuk tiketnya, makan, kamera. Semuanya," kata Rama yang menyebut pencapaian itu sebagai bonus.

Baca juga: 6 Dokumenter Outdoor yang Perlu Ditonton: Ada 'Dissidence' Tentang Atlet Kembar Indonesia di Panjat Tebing

"Sama kayak perjalanan Raviandi dan Ravianto sendiri bisa sampai di Eropa, film ini pun juga kayak gitu. Sampai akhirnya film ini diambil di beberapa festival outdoor. Nah, Si Banff ini salah satu festival yang umurnya sudah cukup tua ya di dunia," tambahnya.

Saat ditanya pihak Banff, negara mana yang tidak ingin kalian tayangkan film tersebut, Rama Dio menjawab adalah negara di wilayah di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia sendiri. Namun, hal itu adalah bagian strategi karena ia butuh orang Eropa dan mancanegara melihat film tentang perjuangan atlet dengan keterbatasan sehingga orang Eropa lebih bisa bersyukur.

Selain itu, nama 'Dissidence; yang terlalu kuat akan indikasi perlawanan terhadap pemerintah, akan memunculkan opini yang melebar. 

"Saya mau kontrol opininya. Mungkin kontrol kata yang terlalu kuat. Tapi saya mau merilis film ini ke Indonesia tuh dengan kesan kayaknya Andi Anto tuh pengkritik pemerintah," jelasnya.

Apa itu Banff Center Mountain Film Festival?

Banff Center Mountain Film and Book Festival (banffcentre.ca)

Mengutip situs resminya, Banff Centre Mountain Film and Book Festival sendiri dikenal sebagai salah satu kompetisi film gunung dan petualangan paling prestisius di dunia. Festival yang digelar setiap musim gugur di Banff, Alberta, Kanada, ini menampilkan film dokumenter dan film pendek terbaik yang berfokus pada olahraga alam bebas, budaya pegunungan, eksplorasi, hingga isu lingkungan.

Baca juga: Filosofi di Balik Judul Dissidence: Dokumenter Atlet Panjat Tebing Kembar yang Menolak Menyerah pada Keterbatasan

Setiap tahunnya, festival ini menerima ratusan film dari berbagai negara. Film-film terpilih bersaing memperebutkan sejumlah penghargaan utama, termasuk Grand Prize, sekaligus menjadi tempat premier internasional bagi banyak dokumenter petualangan dan outdoor terbaik dunia.

Selain menjadi ajang kompetisi, festival ini juga mempertemukan para sineas, penulis, dan kreator untuk saling bertukar ide mengenai budaya petualangan, lingkungan, dan eksplorasi manusia terhadap alam.

Untuk film-film finalis, Banff memiliki standar teknis yang sangat ketat. Film harus dikirim dalam format resolusi tinggi menggunakan codec profesional seperti Apple ProRes 422 atau Avid DNxHD dengan kualitas audio broadcast standard. Film non-Inggris juga diwajibkan menggunakan subtitle bahasa Inggris permanen agar dapat dinikmati audiens internasional.

Deretan film yang menang penghargaan di Banff Film Festival

Pada edisi 2025, penghargaan Grand Prize diraih oleh film "Iron Winter" karya Kasimir Burgess dari Australia. Film tersebut mengikuti kisah dua penggembala muda Mongolia yang harus menjaga 3.000 kuda di tengah musim dingin paling mematikan dalam sejarah wilayah Tsakhir Valley. Juri memuji film tersebut karena mampu menggambarkan hubungan manusia, tradisi, dan ancaman perubahan iklim dengan sinematografi yang kuat.

Kategori Best Adventure Film dimenangkan oleh "Underland" garapan Rob Petit, adaptasi dari buku terkenal karya Robert Macfarlane. Film ini membawa penonton menjelajahi dunia bawah tanah, mulai dari gua kuno hingga laboratorium bawah tanah terdalam yang dibangun untuk memahami misteri alam semesta.

Sementara penghargaan Best Environment Film diberikan kepada "A Life Illuminated" karya Tasha Van Zandt yang mengikuti perjalanan ahli biologi laut Dr. Edie Widder mengeksplorasi zona laut terdalam dan fenomena bioluminesensi yang berpotensi mengubah pemahaman manusia tentang kehidupan di bumi.

Di kategori olahraga gunung, film "Best Day Ever" memenangkan penghargaan Best Mountain Sports sekaligus Audience Choice Award. Film ini menyoroti kisah atlet sepeda gunung difabel yang berusaha kembali menemukan kebebasan dan semangat hidup melalui komunitas mereka di Vermont.

Baca juga: Cerita Unik Sutradara dan Atlet Panjat Tebing Kembar Raviandi-Ravianto Saat Syuting Dokumenter 'Dissidence'

Penghargaan Best Climbing Film diraih oleh "Old Man Lightning", film yang memadukan pendakian tebing, humor, dan refleksi tentang usia serta obsesi manusia terhadap petualangan.

Festival ini juga memberikan perhatian besar pada isu budaya dan komunitas pegunungan. Film "The Track", misalnya, memenangkan kategori Best Mountain Culture lewat kisah tiga remaja Bosnia yang mengejar mimpi Olimpiade di bekas arena luge peninggalan Olimpiade Musim Dingin Sarajevo 1984 yang hancur akibat perang.

Melalui festival seperti Banff, film-film dokumenter tidak hanya menjadi hiburan visual, tetapi juga ruang untuk memperlihatkan keberanian manusia, hubungan dengan alam, serta perjuangan komunitas-komunitas kecil dari berbagai penjuru dunia. Kehadiran Dissidence di festival ini menjadi bukti bahwa kisah atlet dan petualang Indonesia kini mulai mendapat tempat di panggung perfilman internasional.

Film 'Dissidence' sendiri nantinya akan ditayangkan di YouTube mulai 12 Juni 2026 mendatang.di akun PETZL Sport.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara, Banffcentre.ca

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU