Sabtu, 13 JUNI 2026 • 11:39 WIB

"Dissidence: Two Shadow on the Wall" Resmi Tayang, Kisah Atlet Kembar Indonesia Menembus Tebing Kelas Dunia

Author

Film dokumenter "Dissidence: Two Shadow of the Wall" resmi tayang di Youtube Petzl Sport (Youtube/Petzl Sport)

INDOZONE.ID - Film dokumenter Dissidence: Two Shadow on the Wall" resmi tayang di kanal YouTube Petzl Sport pada 12 Juni 2026. Setelah berkeliling ke sejumlah festival film petualangan internasional, karya sutradara Rama Dio Syahputra itu kini bisa disaksikan publik luas dan menghadirkan kisah perjuangan dua atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi Ramadhan dan Ravianto Ramadhan.

Dokumenter berdurasi sekitar 34 menit tersebut tidak hanya bercerita tentang olahraga ekstrem, tetapi juga tentang mimpi, pengorbanan, dan perjuangan atlet Indonesia untuk bersaing di panggung dunia dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Perjalanan Raviandi dan Ravianto dalam dunia panjat tebing sebenarnya dimulai sejak masa kanak-kanak. Keduanya tumbuh di lingkungan keluarga atlet panjat tebing. Paman dan bibi mereka lebih dulu berkarier sebagai atlet profesional dan menjadi inspirasi bagi si kembar untuk mengikuti jejak yang sama.

"Kebetulan om dan tante kami atlet. Akhirnya kami memutuskan jadi atlet profesional pas masih SD sampai umur belasan tahun. Kalau dihitung sekarang, mungkin sudah sekitar 24 tahun kenal dunia panjat tebing ini," ujar Raviandi dan Ravianto dalam wawancara bersama Indozone.

Baca juga: Sutradara 'Dissidence' Ungkap Sulitnya Jalur yang Dipanjat Raviandi dan Ravianto: Tingkat Kesulitan 8C

Masa kecil mereka dihabiskan dengan berlatih di fasilitas panjat sederhana yang dibangun secara mandiri di rumah keluarga di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Dari tempat itulah kecintaan mereka terhadap panjat tebing mulai tumbuh.

"Awalnya cuma lihat-lihat mereka latihan saja, belum yang benar-benar suka. Tapi setelah coba manjat bareng, ternyata seru dan menarik," kata mereka.

Ravianto dna Raviandi, atlet kembar panjat tebing Indonesia yang menjadi sumber film 'Dissidence' (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

Meski kini dikenal sebagai atlet panjat tebing nasional, rasa takut jatuh ternyata tidak pernah benar-benar hilang.

"Awalnya pasti takut, namanya juga anak kecil. Sampai sekarang pun kadang masih ada rasa takut jatuh. Tapi justru itu letak seru dan tantangannya," ujar keduanya.

Kisah itulah yang kemudian menarik perhatian Rama Dio Syahputra saat pertama kali bertemu Raviandi dan Ravianto di Chamonix, Prancis, pada 2023. Saat itu, keduanya tengah mengikuti kompetisi panjat tebing dunia di kaki Pegunungan Mont Blanc.

Baca juga: Cerita Unik Sutradara dan Atlet Panjat Tebing Kembar Raviandi-Ravianto Saat Syuting Dokumenter 'Dissidence'

Menariknya, Rama mengaku sama sekali tidak memiliki rencana membuat film dokumenter tentang mereka.

"Sebenarnya inspirasi itu kata yang terlalu ringkas buat saya. Karena ini pertama kalinya saya merasa cerita itu datang ke depan pintu saya sendiri," ujar Rama Dio.

Menurutnya, cerita dua atlet Indonesia yang berjuang sendirian di Eropa begitu membekas dalam benaknya. Saat atlet-atlet negara lain datang dengan pelatih, tim pendukung, dan fasilitas lengkap, Raviandi dan Ravianto justru harus berjuang dengan cara yang jauh lebih sederhana.

Mereka membawa rice cooker sendiri untuk menghemat biaya makan, membatasi latihan karena mahalnya biaya climbing gym di Eropa, dan hanya mengandalkan dukungan komunitas panjat tebing.

"Mereka cerita bawa rice cooker sendiri, makan seadanya supaya hemat. Harusnya latihan setiap hari di climbing gym di Eropa, tapi karena biayanya sekitar 50 euro dan terlalu mahal, akhirnya mereka cuma latihan beberapa kali," kata Rama.

Film 'Dissidence' ditayangkan di Banff Center Mountain Film Festival (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

Sebagai orang yang telah lama bekerja di industri outdoor dan sering bertemu atlet panjat kelas dunia, Rama mengaku tersentuh melihat realitas yang dihadapi dua atlet Indonesia tersebut.

"Saya pikir, ini anak Indonesia gimana mau menang kalau kondisinya seperti ini. Mereka ingin berprestasi, membawa bendera Merah Putih, tapi negaranya sendiri belum benar-benar mendukung mereka untuk ada di level itu," ungkapnya.

Dalam film ini, penonton diajak mengikuti perjalanan Raviandi dan Ravianto dari Jakarta hingga tebing-tebing legendaris di kawasan Savoie, Prancis. Salah satu fokus utama dokumenter adalah upaya mereka menaklukkan jalur panjat bernama Dissidence dengan tingkat kesulitan 8C, sebuah grade elite yang masih sangat jarang berhasil dipanjat atlet Indonesia di Eropa.

Baca juga: Mengenal Banff, Festival Film Dokumenter Outdoor Dunia: “Dissidence” dari Indonesia Sempat Diputar

Namun lebih dari sekadar mengejar pencapaian olahraga, Dissidence: The Shadow on the Wall berbicara tentang keberanian menghadapi kegagalan, keterbatasan dukungan, serta perjuangan atlet Indonesia untuk mendapat tempat di panggung internasional.

Melalui kisah Raviandi dan Ravianto, film ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya tebing yang harus dipanjat, melainkan berbagai hambatan yang harus dihadapi sebelum sampai di kaki tebing itu sendiri. Sebuah cerita tentang mimpi besar, kerja keras, dan semangat pantang menyerah yang lahir dari dua anak Indonesia yang ingin membuktikan diri di level tertinggi dunia panjat tebing.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan, Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU