INDOZONE.ID - Hampir semua ulasan tentang "The Odyssey" garapan Christopher Nolan membahas hal yang sama, IMAX 70mm pertama untuk kisah epik Yunani, jajaran bintang papan atas, sampai skala produksi yang megah.
Tapi ada satu sudut pandang yang jarang disentuh, padahal justru inilah yang bikin film ini terasa jauh lebih personal dan gelap dibanding versi kisah Odysseus mana pun yang pernah kita kenal, kemungkinan bahwa Odysseus sendiri yang sebenarnya enggan pulang.
Bukan Dewa yang Menghalangi, Tapi Rasa Bersalah
Dalam mitologi aslinya, perjalanan panjang Odysseus kembali ke Ithaca selalu digambarkan sebagai hasil murka para dewa.
Baca juga: 8 Dewa dan Monster Yunani di 'The Odyssey', Film Fantasi Epik Christopher Nolan
Namun film ini menyisipkan kemungkinan lain yang jauh lebih menyeramkan secara psikologis, bahwa keterlambatannya pulang bukan murni kutukan dari luar, melainkan semacam hukuman yang ia ciptakan sendiri.
Akibat rasa tidak layak menerima kebahagiaan setelah kekejaman yang ia lakukan selama Perang Troya. Dengan kata lain, Odysseus bukan korban nasib buruk, ia mungkin justru pelaku yang menghukum dirinya sendiri tanpa disadari.
Angle ini jarang jadi sorotan karena kebanyakan orang datang menonton film ini dengan ekspektasi kisah "pahlawan pulang perang", bukan studi karakter tentang trauma dan penyangkalan diri seorang tokoh yang selama ribuan tahun dianggap teladan.
Waktu yang Diperlakukan Seperti Peta, Bukan Garis Lurus
Ciri khas Nolan dalam mempermainkan struktur waktu kembali muncul di sini, mirip pendekatan yang ia pakai di "Oppenheimer".
Alih-alih menyusun cerita secara linear dari masa lalu ke masa kini, masa lalu, masa kini, dan bahkan bayangan masa depan disusun berdampingan.
Seolah semuanya bisa dikunjungi ulang kapan saja, dengan makna yang berubah setiap kali diputar kembali dalam ingatan karakternya.
Pendekatan ini membuat "The Odyssey" terasa kurang seperti epik petualangan konvensional, dan lebih seperti eksplorasi tentang bagaimana ingatan manusia bekerja, tidak pernah benar-benar selesai, selalu bisa ditafsir ulang tergantung siapa yang mengenangnya.
Cyclops sebagai Korban, Bukan Monster
Salah satu kejutan paling anti-mainstream dari film ini adalah caranya membalik simpati penonton. Alih-alih sepenuhnya memihak Odysseus sebagai pahlawan yang cerdik mengalahkan raksasa bermata satu.
Film ini menghadirkan sudut pandang yang membuat sang Cyclops terasa lebih mirip korban perampokan rumah oleh sekelompok orang asing yang menyusup ke wilayahnya sendiri. Framing ini secara halus mempertanyakan siapa sebenarnya yang pantas disebut monster dalam kisah ini.
Odysseus Bukan Pahlawan Sempurna, dan Filmnya Sadar Betul Soal Itu
Yang membuat pendekatan ini terasa berani adalah keputusan Nolan untuk tidak memberi kesimpulan moral yang gamblang di akhir cerita.
Odysseus digambarkan sebagai sosok yang menjunjung kode etik pribadi, namun berkali-kali melanggarnya sendiri demi kepentingan sesaat, lalu menjadi defensif ketika ada yang mengoreksinya.
Ia pahlawan sekaligus pelaku kekerasan yang tidak selalu bisa dibenarkan, dan film ini membiarkan kontradiksi itu apa adanya tanpa buru-buru menyimpulkan siapa yang benar dan salah.
Kebanyakan pembahasan soal "The Odyssey" berhenti di level teknis, seberapa megah visualnya, seberapa akurat mitologinya, atau seberapa kontroversial pilihan castingnya.
Padahal inti sesungguhnya dari film ini justru ada di level yang jauh lebih personal, tentang bagaimana manusia sering menciptakan sendiri jarak dengan rumah dan orang-orang yang mereka cintai.
Bukan karena dihalangi kekuatan luar, melainkan karena belum mampu berdamai dengan versi diri mereka sendiri di masa lalu.
Baca juga: 5 Referensi Film Christopher Nolan yang Muncul di 'The Odyssey', Sadar Gak?
Dengan begitu, "The Odyssey" bukan sekadar kisah petualangan pulang ke rumah yang epik, melainkan cermin tentang kenapa "pulang" sering kali menjadi perjalanan paling sulit yang harus dilakukan seseorang, bahkan setelah semua rintangan fisik berhasil dilewati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IMDb, Rotten Tomatoes