Selasa, 02 JUNI 2026 • 18:30 WIB

Filosofi di Balik Judul Dissidence: Dokumenter Atlet Panjat Tebing Kembar yang Menolak Menyerah pada Keterbatasan

Author

Film Dokumenter 'Dissidence', Angkat Kisah Inspiratif Atlet Kembar Panjat Tebing (Indozone/Sagita)

INDOZONE.ID - Film dokumenter Dissidence karya Rama Dio Syahputra berhasil membuktikan bahwa oposisi terbaik terkadang tidak disuarakan lewat riuh kepalan tangan. 

Ada perjuangan yang bergerak dalam diam, ditempa melalui keringat latihan yang tak kasat mata, dan dirawat lewat nyali untuk terus bertahan kala dukungan sekeliling kian menipis. 

Melalui lensa kameranya, Rama Dio menyoroti perjalanan duo atlet kembar panjat tebing Indonesia, Raviandi dan Ravianto, dalam menaklukkan nomor lead dan bouldering. Kedua nomor ini terkenal sangat menuntut presisi fisik, stabilitas psikologis, serta komitmen yang masif. 

Sang sutradara berhasil membingkai perjalanan Andi dan Anto sebagai sebuah memoar yang sangat membumi: tentang bagaimana keterbatasan materiil tidak menghentikan langkah mereka untuk merengkuh puncak prestasi tertinggi.

Baca juga: Tantangan Menggarap Dokumenter 'Dissidence': Dikerjakan Sendirian hingga Jalur Panjat yang Harus Diselesaikan

"Pesannya sebenarnya sederhana. Mereka datang dari kalangan yang luar biasa terbatas, dengan cara dan sumber daya yang terbatas, tetapi bisa sampai ke prestasi paling tinggi," ujar Rama Dio saat diwawancara Indozone beberapa waktu lalu.

Kisah semacam ini mungkin terdengar akrab dalam dunia olahraga. Namun, panjat tebing memiliki tantangan yang berbeda. Di Indonesia, popularitasnya belum sebesar sepak bola atau bulu tangkis. Akibatnya, perhatian publik, dukungan finansial, hingga ekosistem pembinaan sering kali tidak semudah cabang olahraga yang lebih populer.

Menariknya, keterbatasan itu tidak hanya dialami oleh para atlet. Rama Dio mengaku membuat film ini dengan kondisi yang tidak jauh berbeda. Ia harus mengikuti perjalanan atlet, membiayai berbagai kebutuhan produksi, hingga mengerjakan banyak hal sendiri dengan peralatan yang terbatas.

Di balik layar film dokumentasi tentang atlet kembar Raviandi dan Ravianto (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

"Saya dengan alat yang terbatas juga sama seperti mereka. Pada akhirnya saya bilang, ya sudah, coba saja dulu. Nanti ada saja jalannya," katanya.

Semangat itulah yang kemudian membawa Dissidence melampaui ekspektasi. Film tersebut diterima di berbagai festival film petualangan internasional, termasuk festival di Banff, Kanada, sebelum berkeliling ke puluhan negara melalui berbagai pemutaran film outdoor.

Namun, kekuatan Dissidence tidak hanya terletak pada kisah perjuangan dua atlet. Kekuatan sesungguhnya justru tersembunyi dalam judulnya.

Secara harfiah, dissidence berarti sikap menolak, tidak setuju, atau mengkritik sistem, doktrin, maupun norma yang berlaku. Kata tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengambil posisi berseberangan terhadap suatu sistem yang dianggap mapan.

Bagi Rama Dio, makna itu tidak dimaksudkan untuk menggambarkan Raviandi dan Ravianto sebagai pemberontak terhadap pemerintah atau federasi olahraga. Sebaliknya, kata tersebut digunakan untuk menggambarkan sikap mereka yang memilih mencari jalan sendiri ketika dukungan yang dibutuhkan tidak tersedia.

"Mereka bukan pemberontak. Mereka hanya punya mimpi yang tidak didukung, lalu mencari jalannya sendiri," jelasnya.

Di titik inilah Dissidence berubah menjadi lebih dari sekadar dokumenter olahraga. Film ini berbicara tentang individu-individu yang menolak menyerah pada keadaan. Tentang orang-orang yang tidak melawan sistem dengan amarah, tetapi dengan ketekunan.

Makna tersebut semakin kuat karena memiliki lapisan lain yang bersifat harfiah. Saat tinggal di Prancis, Rama Dio menemukan sebuah jalur panjat alam yang sangat sulit. Nama jalur itu adalah Dissidence.

Jalur tersebut kemudian menjadi simbol sekaligus tujuan perjalanan Andi dan Anto. Rama Dio menantang keduanya untuk menaklukkan tebing itu, meskipun mereka belum pernah memanjat pada tingkat kesulitan yang setara.

"Dissidence" akhirnya menjadi titik temu antara realitas dan metafora. Di satu sisi, ia adalah nama sebuah jalur panjat yang harus ditaklukkan. Di sisi lain, ia mencerminkan perjalanan hidup kedua atlet yang terus mendaki berbagai hambatan sosial, ekonomi, dan struktural yang menghadang mereka.

Baca juga: Di Balik Inspirasi Dokumenter ‘Dissidence’; Pertemuan Atlet Kembar Panjat Tebing Indonesia di Charmonix

Karena itu, ketika penonton tiba di penghujung film dan melihat bagaimana perjalanan tersebut bermuara, makna judulnya terasa utuh. Dissidence bukan sekadar tentang menaklukkan sebuah tebing di Prancis. Ia adalah tentang keberanian untuk terus bergerak ke atas ketika jalan yang tersedia terasa terlalu sempit.

Pada akhirnya, esensi perjuangan yang disuguhkan dalam film ini bukanlah sebuah sinisme terhadap figur tertentu. Ini adalah manifestasi perlawanan terhadap keterbatasan diri, dinding keraguan, serta kungkungan keadaan yang kerap mendikte bahwa sebuah impian mustahil untuk digapai. 

Layaknya tebing terjal yang mereka taklukkan, realitas hidup sering kali tidak menawarkan rute yang mulus. Namun bagi Raviandi dan Ravianto, ruang untuk menyerah telah tertutup; satu-satunya opsi yang tersisa adalah terus mencari pijakan baru, menggenggamnya kuat-kuat, lalu memanjat lebih tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU