Jumat, 12 JUNI 2026 • 08:20 WIB

Sutradara 'Dissidence' Ungkap Sulitnya Jalur yang Dipanjat Raviandi dan Ravianto: Tingkat Kesulitan 8C

Author

Ravianto, salah satu atlet kembar panjat tebing dalam proses pembuatan dokumenter 'Dissidence' (Rama Dio Syahputra (@ramadiosp) / Dissidence Images)

INDOZONE.ID - Perjuangan atlet kembar Indonesia, Raviandi Ramadhan dan Ravianto Ramadhan, dalam menaklukkan jalur panjat tebing kelas dunia menjadi sorotan dalam film dokumenter Dissidence. Di balik visual yang menegangkan, terdapat tingkat kesulitan luar biasa yang membuat pencapaian keduanya layak mendapat perhatian komunitas panjat tebing internasional.

Sutradara dokumenter Dissidence, Rama Dio Syahputra, menjelaskan bahwa jalur yang menjadi fokus film tersebut berada di La Balme de Yenne, area panjat tebing di Prancis yang dikenal di kalangan pemanjat dunia.

Dalam dunia panjat tebing, setiap kawasan memiliki beberapa sektor yang terdiri atas banyak jalur dengan tingkat kesulitan berbeda. Jalur yang dipanjat Raviandi dan Ravianto dalam dokumenter tersebut bernama Dissidence dengan grade 8C, sebuah level yang masuk kategori elite dalam olahraga panjat tebing.

Menurut Rama, untuk memahami betapa sulitnya grade tersebut, perlu melihat perbandingan dengan level tertinggi yang pernah dicapai manusia saat ini.

Baca juga: Mengenal Banff, Festival Film Dokumenter Outdoor Dunia: “Dissidence” dari Indonesia Sempat Diputar

"Kalau saya kasih konteks, tingkat kesulitan paling tinggi hari ini itu 9C. Yang bisa manjat 9C hari ini cuma lima orang di satu planet bumi ini. Karena memang luar biasa sulit," katanya saat diwawancara Indozone.

Ia menggambarkan bahwa pada jalur-jalur dengan tingkat kesulitan tinggi, ukuran pegangan yang tersedia sering kali sangat kecil.

"Pegangannya itu kayak kartu ATM, tapi tipis banget. Mereka dikasih batu sekecil ini, lalu dicengkeram dengan ujung jari. Kakinya cuma bertumpu di ujung pijakan kecil, sementara tubuhnya menempel di tembok batu," jelasnya.

Kondisi tersebut membuat seorang pemanjat tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik yang luar biasa, tetapi juga keberanian dan ketahanan mental yang tinggi.

"Untuk bisa maju ke pegangan berikutnya, itu butuh keberanian. Karena kalau enggak, mereka jatuh. Tapi setelah jatuh mereka coba lagi. Dalam panjat tebing, kegagalan itu bagian dari keberhasilan," kata Rama.

Baca juga: 10 Dokumenter Sepak Bola Netflix Terbaik, Dari Legenda Hingga Underdog!

Menurutnya, filosofi paling mendasar dalam olahraga panjat tebing adalah keberanian untuk terus mencoba meski berkali-kali gagal.

"Jadi kalau mau panjat tebing, harus berani gagal," tegasnya.

Menariknya, penentuan tingkat kesulitan atau grade dalam panjat tebing hingga kini masih banyak bergantung pada penilaian komunitas. Tidak ada standar ilmiah yang sepenuhnya objektif untuk menentukan apakah sebuah jalur layak disebut 8C, 8B+, atau bahkan 9A.

"Sampai hari ini yang lucunya, panjat tebing itu enggak ada normanya. Semuanya subjektif. Jadi enggak ada science yang benar-benar menentukan grade itu," ungkap Rama.

Ia mencontohkan bagaimana perbedaan persepsi sering terjadi di kalangan pemanjat elite. Sebuah jalur yang dinilai 8C oleh satu pemanjat bisa saja dianggap lebih mudah atau justru lebih sulit oleh pemanjat lain.

"Kalau saya bilang ini 8C, bisa saja ada pemanjat lain yang bilang, 'Ah ini 8B+'. Tapi ketika dia coba, bisa jadi dia bilang, 'Wah ini malah 9A'. Makanya grade itu sangat bergantung pada konsensus komunitas pemanjat yang kuat," ujarnya.

Selain subjektivitas penilaian, karakter batuan juga memengaruhi tingkat kesulitan sebuah jalur. Setiap jenis batu memiliki teknik dan gaya panjat yang berbeda.

"Ada batuan granit, limestone, sandstone. Semua punya karakter berbeda. Ada pemanjat yang kuat di limestone karena terbiasa dengan bentuk pegangannya. Ada juga yang lebih nyaman di granit karena tekniknya berbeda," kata Rama.

Baca juga: Sosok Rama Dio Syahputra dan Awal Mula “Dissidence”: Dari Dunia Produk Keselamatan ke Dokumenter Panjat Tebing

Faktor-faktor tersebut membuat pencapaian Raviandi dan Ravianto di jalur Dissidence menjadi sangat istimewa. Sebab, hingga saat ini belum banyak pemanjat Indonesia yang mampu menorehkan prestasi pada jalur dengan grade setinggi itu di Eropa.

Meski demikian, Rama mengaku berhati-hati untuk memberikan klaim definitif mengenai status keduanya dalam sejarah panjat tebing nasional karena kompleksitas sistem penilaian grade yang berlaku secara global.

"Saya pun enggak berani kasih klaim bahwa Andi dan Anto adalah pemanjat Indonesia 8C pertama di Eropa. Tapi menurut saya, iya," ujarnya.

Melalui dokumenter Dissidence, Rama ingin menunjukkan bahwa keberhasilan dalam panjat tebing bukan hanya soal mencapai puncak jalur. Lebih dari itu, film ini menggambarkan proses panjang yang penuh kegagalan, keberanian, dan ketekunan yang harus dilalui seorang atlet untuk mencapai level tertinggi dalam olahraga tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU